CELEBESMEDIA.ID, Maros - Manajemen PT Semen Bosowa Maros
(Bosowa Maros) kedatangan ahli mesin dari Thailand, Mr. Supakint
Suteepichatpun, Rabu (28/8/2019). Kedatangannya di pabrik Bosowa guna mengecek
gangguan mesin penangkap debu, Electrostatic Precipitator (EP) yang beberapa
hari terakhir meresahkan warga ring 1 pabrik Bosowa, yakni di desa Baruga dan Tukamasea,
kecamatan Bantimurung.
Head Plant PT Semen Bosowa Maros, Syamsul Rijal mengatakan
gangguan di EP membuat akurasi untuk menangkap debu tidak terlalu tinggi,
sehingga membuat warga ring 1 kewalahan mengatasi debu. Hal ini, menurutnya,
diketahui setelah sejumlah masyarakat mengatasnamakan Forum Pemuda Baruga
Salenrang Tukamasea (FP Barsatu) melayangkan aspirasi terkait pencemaran udara.
“Ini salah satu upaya kami untuk menjawab keresahan
masyarakat, dengan mendatangkan langsung ahli mesin FLS. Setelah pemeriksaan
kami akan tunggu rekomendasinya, apakah ada alat yang akan diganti atau
mengganti parameter mesin tersebut,” ujarnya, dalam rilis yang diterima redaksi
CELEBESMEDIA.ID.
Menurut Rijal, debu yang dikeluhkan warga ring 1 berlangsung
hingga 8 jam. Situasi ini diakui memang tidak normal. Maka dari itu ia berharap
masalah tersebut segera terselesaikan. Selama dua hari hingga kemarin,
pemeriksaan terus dilakukan oleh pakar mesin didampingi Electrical & Automation
Div. Head Bosowa Semen, Muhammad Ilyas.
Rijal menambahkan, selain keluhan debu yang diutarakan FP
Barsatu, Bosowa juga dituntut untuk bertanggungjawab atas dampak debu. Dengan
melalukan penyiraman jalan masuk pabrik. Mengenai hal tersebut, ia mengakui jika
penyiraman akan dilakukan setiap hari serta akan menambah kran air bersih yang
bisa dimanfaatkan warga sekitar.
“Kran air ini akan dibangun di area pabrik, tapi warga dapat
mengaksesnya. Selain itu pengobatan gratis untuk warga terdampak debu juga akan
digelar di Klinik Bosowa Semen. Maka warga silahkan datang berobat jika merasa
kesehatannya terganggu akibat polusi dari pabrik,” ujarnya.
Pengurus BPD Baruga, Saenal, mengapresiasi upaya Bosowa untuk mengatasi persoalan debu. Ia adalah representasi dari warga desa Baruga yang juga berperan untuk memantau perkembangan yang terjadi di pabrik Bosowa.
“Harapan kami akhirnya dikabulkan oleh Bosowa, semoga masalah debu dapat terselesaikan. Kami juga mengimbau warga Baruga agar dapat bersabar karena mengatasi masalah pabrik tidak semudah membalikkan telapak tangan, semua butuh proses,” ujarnya.