CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Trauma merupakan respons emosional terhadap peristiwa yang sangat menyusahkan atau mengganggu.
Sedangkan trauma psikologis adalah kondisi akibat peristiwa yang membuat seseorang tidak merasa aman dan tidak berdaya.
Orang yang pernah melalui peristiwa menakutkan bisa saja mengalami trauma. Termasuk tragedi Kanjuruhan yang terjadi beberapa waktu lalu.
Penyintas tragedi Kanjuruhan butuh pemilihan mental. Demikian yang disampaikan psikolog Dicky Chresthover Pelupessy.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membantu penyintas tragedi Kanjuruhan untuk mengatasi traumanya, menurut Psikolog Universitas Indonesia tersebut yang dikutip dari ANTARA, Kamis (6/10/2022).
1. Mendengarkan dan Menemani
Sebagai langkah awal, menurut Dicky mendengarkan dan menemani adalah pilihan yang tepat.
"Menemani dan menjadi pendengar, namun tidak perlu memaksa orang untuk bercerita peristiwa yang dialami, kecuali jika memang mau menceritakan sendiri tanpa diminta," kata Dicky.
2. Memberikan Perhatian
Dicky mengatakan seseorang juga bisa membantu dengan memberikan perhatian.Perhatian-perhatian yang diberikan orang terdekat pada dasarnya bertujuan untuk membuat penyintas tidak merasa sendirian.
Misalnya memastikan kebutuhan fisik dasar penyintas terpenuhi dengan membawakan makanan atau minuman favoritnya.
3. Konseling
Dicky menjelaskan pendampingan dari orang punya keterampilan konseling juga bisa diberikan bagi penyintas yang perilakunya jadi berubah setelah kejadian. Perubahan perilaku yang dimaksud contohnya adalah lebih banyak diam, murung dan menarik diri setelah peristiwa.
"Yang perlu diingat adalah pada hari-hari ini, baru beberapa hari setelah peristiwa, reaksi-reaksi perilaku dan psikologis yang tampil dinilai normal. Reaksi normal terhadap peristiwa yang abnormal," katanya.
Bila penyintas tetap berperilaku seperti biasa dan tidak ada perubahan, orang terdekat bisa membantu dengan siap menjadi teman bicara saat diperlukan, ujar dia.
Dicky menjelaskan trauma psikologis penyintas dapat hilang, sebab trauma pada dasarnya adalah luka yang dapat pulih. Namun, ingatan terhadap luka bisa saja tidak hilang.
"Namun, mengingat atau kembali teringat selama tidak menimbulkan reaksi berlebihan dan tidak mengganggu fungsi keseharian adalah hal yang wajar," jelas dia.