CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Ismail Haniyeh, salah satu Pemimpin biro politik Hamas yang tewas dalam serangan di Iran. Garda Revolusi Iran menyatakan Haniyeh tewas bersama salah satu pengawalnya. Sejak tahun 2017 hingga ia meninggal dunia, Haniyeh lebih banyak menghabiskan waktunya di Qatar.
Melansir Reuters, Rabu (31/7), Haniyeh terpilih menjadi kepala biro politik Hamas menggantikan Khaled Meshaal, pada tahun 2017 lalu.
Pria kelahiran tahun 1962 ini dikenal sebagai sosok yang moderat dibanding pejabat garis keras Hamas lainnya.
Meskipun menyampaikan banyak pernyataan keras di depan publik, menurut para diplomat dan pejabat Arab, sosok Haniyeh relatif pragmatis dibandingkan dengan suara-suara garis keras di dalam Jalur Gaza, yang menjadi lokasi sayap bersenjata Hamas
Hniyeh lahir di al-Shati, sebuah kamp pengungsi Gaza, 8 Mei 1963. Saat masih muda. Ia dikenal memiliki sikap yang tenang.
Ia pernah menjadi anggota cabang mahasiswa dari kelompok Ikhwanul Muslimin di Universitas Islam Gaza. Kemudian bergabung dengan Hamas tahun 1987 ketika kelompok militan itu didirikan di tengah meletusnya intifada Palestina pertama, atau pemberontakan melawan pendudukan Israel, yang berlangsung hingga tahun 1993.
Pada masa itu, Haniyeh beberapa kali dijebloskan ke penjara oleh Israel dan kemudian diusir ke Lebanon bagian selatan selama enam bulan.
Tiga anaknya pun meninggal karengan serangan zinonis Israel pada 10 April lalu. Mereka masing-masing bernama Hazem, Amir dan Mohammad.
Saat itu serangan Israel menghantam mobil yang mereka gunakan. Haniyeh juga kehilangan empat cucunya -- tiga perempuan dan satu laki-laki -- dalam serangan tersebut.
Haniyeh membantah tuduhan Israel bahwa putra-putranya merupakan petempur Hamas. Dia mengatakan pada saat itu bahwa "kepentingan rakyat Palestina diutamakan di atas segalanya" ketika ditanya apakah kematian keluarganya akan berdampak pada perundingan gencatan senjata.
Israel menganggap seluruh kepemimpinan Hamas sebagai teroris, dan menuduh Haniyeh.
Namun seberapa banyak Haniyeh mengetahui soal serangan Hamas pada 7 Oktober tahun lalu masih belum jelas. Rencana serangan itu, yang disusun oleh dewan militer Hamas di Jalur Gaza, merupakan rahasia yang dijaga ketat sehingga beberapa pejabat Hamas tampak terkejut dengan waktu dan skalanya.
Namun Haniyeh, yang seorang Muslim Sunni, memiliki andil besar dalam membangun kapasitas tempur Hamas. Salah satunya dengan menjalin hubungan dengan Iran, yang mayoritas Muslim Syiah, yang tidak merahasiakan dukungannya untuk kelompok tersebut.
Selama beberapa tahun ini Haniyeh menjabat pemimpin Hamas, Israel menuduh tim kepemimpinannya membantu mengalihkan bantuan kemanusiaan kepada sayap bersenjata kelompok militan itu. Hamas telah membantah tuduhan itu.
Sejauh ini belum ada komentar Israel atas laporan kematian Haniyeh.
Dalam laporan Reuters juga menyatakan Hamas menyatakan berduka atas kematian Haniyeh, yang dikatakannya tewas dalam "serangan berbahaya Zionis di kediamannya di Teheran".