CELEBESMEDIA.ID, Makassar- Manis, gurih dan hangat. Itulah yang terasa saat mencicipi sarabba.
Sarabba merupakan minuman tradisional khas Sulawesi Selatan. Tak ada literatur pasti yang menjelaskan tentang awal pertama kali kemunculan atau sejarah dari sarabba ini.
Namun, minuman tradisional ini memang sudah ada dan dikonsumsi sejak dulu secara turun-temurun.
Minuman tradisional ini disajikan dalam kondisi hangat, serta identik dengan aroma dan rasanya yang sedikit pedas. Terbuat dari campuran jahe, gula merah, santan, dan sedikit merica.
Selain menghangatkan, sarabba juga menyehatkan dan dapat mengembalikan stamina setelah seharian beraktivitas, karena bahan dan rempah-rempah yang dikandungnya.
Sarabba biasa disajikan dalam 3 varian, yaitu sarabba original, sarabba susu, dan sarabba telur.
Sarabba original adalah sarabba tanpa campuran tambahan bahan lain.
Sarabba telur disajikan dengan tambahan kuning telur, sedangkan sarabba susu disajikan dengan tambahan susu. Masing-masing varian tersebut memiliki cita rasa tersendiri.
Salah satu warung sarabba legendaris minuman ini terletak di pinggir Jl. Sungai Cerekang, dekat asrama mahasiswa putera Gorontalo, Kec. Bontoala, Kota Makassar.
Berdiri sejak tahun 1983, warung sarabba Sungai Cerekang (Sucer) 01 tetap eksis di tengah gempuran warung kekinian atau cafe.
Warung ini tetap laris selama 40 tahun beroperasi karena menjaga kualitas sarabba yang tetap memakai resep turun temurun dari generasi pertama.
Kursi - kursi di warung tersebut penuh saat sore hingga malam hari. Sulit menemukan kursi kosong utamanya saat akhir pekan.
Sesuai namanya, sarabba Sungai Cerekang 01 ini merupakan yang pertama di sekitaran Jl. Sungai Cerekang, buka dari pukul 4 sore, sampai dengan jam 1 malam setiap hari.
Nurhayati yang merupakan generasi ke-3 pewaris warung sarabba ini, menuturkan perjalanan berdiri dan bertahannya warung sarabba miliknya, saat di wawancarai CELEBESMEDIA.ID, Selasa (30/05/2023).
"Warung ini warisan orang tua H.Guni, sudah 3 generasi mi. Jadi dulu namanya sarabba Hasna, namanya kakak yang generasi ke 2 sudah meninggal, tapi saya ganti jadi sarabba sungai cerekang 01 supaya lebih umum dan orang tau ini yang pertama."tuturnya
"Dari 1983 sampai sekarang sudah 40 tahunan. Panjang prosesnya, naik turun, apalagi kemarin Covid sempat juga berhenti karena dilarang, jadi sempat kita layani take away saja. Tapi alhamdulillah sekarang sudah mulai bangkit lagi," tambahnya.
Setiap harinya, Nurhayati membuat 50-70 liter sarabba. Jika akhir pekan, sampai 100 liter sarabba. Omset yang didapat pun mulai bervariasi tergantung ramainya pembeli. Sehari bisa 350-500 gelas yang dapat dijual atau 4-6 juta per hari.
Selain sarabba, disediakan juga gorengan sebagai cemilan, mulai dari pisang goreng, bakwan, ubi goreng, sebagai pelengkap. Harga yang murah meriah dan rasanya yang konsisten, membuat warung nurhayati tak pernah sepi dari pelanggan.
Satu gelasnya sarabba dibandrol seharga Rp10.000 untuk yang original, sedangkan untuk campuran susu seharga Rp12.000, dan campuran kuning telur seharga Rp13.000, untuk gelas ukuran 250 ml. Sedangkan untuk gorengannya Rp. 5.000 sebanyak 4 biji untuk jenis apapun.
Salah satu keunikannya, sarabba ini menggunakan gula merah asal Bone yang menghasilkan rasa manis dan nikmat, berpadu dengan jahe dan rempah yang membuat sarabba ini menjadi favorit banyak orang, dari dulu hingga saat ini.
Nurhayati berharap agar kenikmatan sarabba miliknya tetap terus bisa dirasakan oleh banyak orang, dan kelak usaha warisan ini dapat diteruskan oleh ke 2 anaknya.
"Iye semoga bisa lancar terus usaha ini saya juga sehat, dan semakin banyak orang yang suka dan bisa datang di tempat ini. Dan rencananya akan diteruskan sama anak-anaku kedepan, InsyaAllah," ucapnya.
Aldi Mansur salah satu pelanggan Sarabba Sungai Cerekang 01 ini menuturkan, sudah menjadi langganan dari tahun 1996. Artinya sudan 27 tahun Aldi menjadi pelanggan Sarabba Sucer, sejak ia duduk di bangku SMA.
"Saya dari tahun 1996 memang sudah disini dari SMA kalau minum sarabba. Saya tinggal di tamalate, jauh-jauh kesini memang khusus untuk minum sarabba."ucapnya
"Memang beda rasanya, ndatau kenapa mulai dari baunya sampai rasanya memang khas. Saya nda bisa jelaskan dengan kata-kata, sudah banyak saya coba tempat lain, dalam kota maupun luar kota, tapi memang di sini yang paling terbaik sarabbanya. Tempatnya juga sangat nyaman, selayaknya warung pinggir jalan, sama pelayananannya juga baik," tutupnya.
Laporan: Moh. Firmansyah Putra