CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Di balik bentangan kain merah kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan, tersimpan nilai-nilai luhur yang melampaui sekadar taktik dan skor akhir di atas rumput hijau.
Musim ini, PSM Makassar sekali lagi menyematkan nilai kebudayaan yang teramat mendalam pada jersey kebanggaannya yakni filosofi Coppo' Bola.
Sebuah warisan yang tak sekadar jadi pemanis narasi klub, melainkan pengingat setiap kali Pasukan Ramang melangkah ke lapangan di tengah ketatnya persaingan Super League 2026/27 yang kini telah bergulir.
Dalam kosmologi Bugis-Makassar, coppo' bola atau puncak wumbungan rumah panggung merupakan bagian tertinggi yang melambangkan kesucian, kehormatan, dan siri' (harga diri) keluarga.
Bagi seorang perantau, menatap coppo' bola sebelum menginjakkan kaki keluar rumah adalah ikrar batin untuk senantiasa memegang teguh amanah, menjaga nama baik orang tua, serta membawa pulang kehormatan bagi tanah kelahirannya.
Spirit itulah yang kini terpatri di dada setiap pemain Pasukan Ramang. Mengenakan jersey kebesaran PSM bukan sekadar bertanding, melainkan memikul martabat seluruh masyarakat Sulawesi Selatan.
Namun jalan PSM di awal musim ini jauh dari kata mulus, dan justru di sanalah filosofi itu diuji sesungguhnya.
Perjuangan diawali dengan laga tandang berat ke markas juara bertahan Persib Bandung di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, awal September lalu. PSM pulang dengan tangan hampa usai takluk 1-3.
Kembali ke kandang sendiri, Stadion BJ Habibie, Parepare, giliran Arema FC yang menyambangi Laskar Ayam Jantan dari Timur dengan drama enam gol yang menguras jantung.
Sempat tertinggal dua gol lewat Gabriel Silva dan penalti Gustavo Franca, PSM sedikit demi sedikit bangkit lewat penalti Stevan Jevtoski jelang turun minum, lalu tertinggal lagi oleh gol spektakuler jarak jauh Careca di babak kedua.
Untung ada Luka Cumic. Pemain pengganti asal Montenegro itu tampil sebagai pahlawan dengan mencetak dua gol, termasuk gol penyama kedudukan dramatis di masa injury time menit 90+6, memastikan laga berakhir imbang 3-3.
Tiga poin pertama musim ini pun masih harus ditunda. Pada laga ketiga menjamu Persita Tangerang, Sabtu (19/9), PSM kembali menunjukkan kegigihan bertarung hingga menit akhir sebelum akhirnya bermain imbang 2-2 kontra Pendekar Cisadane.
Hasil dua poin dari tiga laga awal, memang, belum sepenuhnya memuaskan. Tapi ada satu benang merah yang tak bisa disangkal dari tiga pertandingan itu, PSM tidak pernah benar-benar menyerah, sekalipun tertinggal dua gol sekalipun.
Daya juang pantang menyerah yang berulang kali ditunjukkan para pemain membuktikan bahwa mentalitas bertarung mereka tidak pernah padam, meski hasil akhir belum berpihak.
Musim kompetisi 2026/27 masih sangat panjang, dan jalan menuju puncaknya penuh dengan tantangan yang menuntut ketahanan serta konsistensi.
Hasil di tiga laga awal bukanlah titik akhir, melainkan lecutan evaluasi untuk bangkit lebih kuat pada pertandingan-pertandingan mendatang.
Setiap kali melangkah memasuki lapangan, para pemain dipanggil untuk menatap Coppo' Bola di dalam jiwa mereka, mengingat kembali untuk siapa mereka bertarung dan jersey siapa yang mereka pertaruhkan.
Dengan menegakkan nilai siri' na pacce, Pasukan Ramang siap mengarungi sisa musim dengan kepala tegak, bertarung habis-habisan demi membela kehormatan rumah dan membawa nama PSM terbang tinggi di panggung sepak bola nasional.
![]()
Detail motif gradasi pada jersey kandang PSM musim 2026/27, dengan gambar timbul yang menyerupai siluet lekuk atap rumah panggung Bugis-Makassar atau Coppo' Bola - (foto by @psm_makassar/instagram)