Oleh: Menteri Agama Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA
NIAT yang luhur untuk selalu menyadarkan diri merupakan salahsatu upaya untuk merawat kemabruran
ibadah. Penciptaan kondisi batin yang diawali dengan niat dan tekad yang suci
merupakan unsur yang amat penting di dalam merawat kemabruran ibadah.
Niat yang luhur bukan diucapkan, tetapi dihayati dan
diresapi sedalam-dalamnya sehingga terasa bahwa sesungguhnya usaha dan
pekerjaan yang kita lakukan kita berbagi (share) dengan Tuhan. Keunggulan yang
kita miliki ialah kekuatan niat. Kita tidak boleh lupa bahwa diri kita sebagai
manusia berduplikasi dengan unsur mineral (jasadiyyah), tumbuh-tumbuhan
(nabatiyyah), dan hewan (hayawaniyyah).
Kita berada setingkat di atas binatang karena unsur spiritual
(ruhiyyah). Dengan mengingat itu semua maka segenap tantangan bisa diatasi.
Kita sadar betul bahwa yang membedakan kita dengan binatang hanyalah unsur
spiritualitas itu. Perbuatan yang kita lakukan tanpa melibatkan niat dan
perencanaan yang matang maka sesungguhnya itu adalah perbuatan binatang (animal
working).
Jika perbuatan itu dilakukan melalui niat dan perencanaan
yang matang maka itulah perbuatan manusia (human working). Jika perbuatan yang
dilakukan di samping dengan niat dan perencanaan matang, juga dilakukan dengan
melibatkan unsur spirutualitas kita yang lebih dalam maka sesungguhnya
perbuatan itu disebut perbiatan yang berkeilahian (Divine working). Divine
working inilah yang akan menghadirkan berkah dalam kehidupan kita.
Jika diilustrasikan pada perbuatan suami isteri yang tidak
melibatkan niat dan spiritualitas, melainkan hanya nafsu semata, maka
sesungguhnya yang berhubungan suami isteri itu adalah binatang (animal
sexuality). Akibatnya pun bisa ditebak bahwa yang lahir dari perbuatan itu
adalah “anak binatang”.
Jangan melulu menyalahkan anaka-anak remaja sekarang
diwarnai dengan tawuran dan pekelahian, karena mereka itu adalah produk animal
working. Apapun pruduk animal working akan berpotensi merugikan orang lain, sungguhpun
menguntungkan dirinya sendiri.
Penyingkiran dunia spiritual di dalam prilaku manusia
bukan hanya merugikan diri sendiri tetapi juga akan merugikan orang lain,
bahkan juga lebih para akan dialami alam raya. Despiritualisasi dan
dehumanisasi setiap dunia usaha, sebagaimana yang menggejala di dalam
masyarakat, sudah sangat memprihatinkan.
Ada kecenderungan semua paradiga cenderung didominasi oleh
unsur kebinatangan kita. Pertimbangan nilai-nilai luhur kemnusiaan dan
keagamaan sudah tergerus oleh nilai-nilai fragmatisme. Segalanya diukur
berdasarkan untung-rugi, bukan lagi wajar atau tidak wajar, baik atau tidak
baik, benar atau salah.
Akal-budi atau akhlaqul karimah tidak lagi aktif di dalam
masyarakat. Bahkan banyak orang yang tega berpesta dan membangunistana di atas
puing-puing kehancuran saudaranya sendiri.
Jika pola kehidupan sudah seperti itu dan tidak ada usaha
untuk mengatasinya, maka itu pertanda ‘lampu kuning’ bagi dunia kemanusiaan
kita. Jika demikian adanya maka alam raya pun enggan menerima kehadiran kita
sebagai khalifahnya.
Bahkan sebaliknya ia akan menunjukkan pembangkangannya
dengan berbagai cara. Termasuk di antaranya dengan anomaly cuaca yang sulit
diprediksi, bencana alam merajalela, gunung-gunung batuk berjamaah, dan virus asing bermunculan
di mana-mana. Jika hal-hal seperti ini muncul maka mungkin inilah yang disebut
Nabi sebagai tanda-tanda kecil (‘alama al-shugra) hari kiyamat akan tiba.
Dengan demikian niat luhur untuk senantiasa merawat
kelestarian kemabruran ubudiyah selama sebulan Ramadhan diharapkan bisa
terpelihara kesuciannya dengan niat yang luhur dan keinginan yang kuat untuk
selalu dekat dengan Allah SWT.
Artikel ini telah ditayangkan Tribun Timur, Edisi 2 Maret
2025