Salju Abadi di Puncak Jaya Terus Mencair, BMKG: Ekosistem Terancam

Salju Abadi di Puncak Jaya - (foto by Antara)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Salju abadi tutupan es di Puncak Jaya, Papua terus mencair, dampak dari perubahan iklim.

Salju abadi di Puncak Jaya, merupakan keajaiban alam sebab terjadi di wilayah tropis. Tentu hal ini menarik banyak perhatian dari kalangan ilmuwan, peneliti, serta pecinta alam.  

Namun, dalam beberapa dekade terakhir, dilaporkan terjadi penurunan drastis luas area salju abadi tersebut.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyebut kondisi itu sangat mengkhawatirkan. 

Terlebih, menurutnya El Nino semakin mempercepat kepunahan tutupan es di Puncak Jaya tersebut.

Mencairnya tutupan es di Puncak Jaya berdampak besar bagi berbagai aspek kehidupan di wilayah tersebut.  

“Ekosistem yang ada di sekitar salju abadi menjadi rentan dan terancam. Perubahan iklim juga berdampak pada kehidupan masyarakat adat setempat yang telah lama bergantung pada keseimbangan lingkungan dan sumber daya alam di wilayah tersebut,” ungkap Dwikorita mengutip Antara, Minggu (27/8/2023).

Dwikorita mengatakan bahwa sejak tahun 2010, Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) BMKG bersama Ohio State University, AS, telah melakukan studi terkait analisis paleo-klimatologi berdasarkan inti es (ice core) pada gletser Puncak Jaya

Hasilnya, tutupan es di Puncak Jaya mengalami pencairan dan menuju kepunahan.

Menipisnya cairan es di Puncak Jaya terjadi pada tahun 2010-2015, saat itu ketebalan es diperkirakan memcapai 32 meter.

Pada 2010, tebal es diperkirakan mencapai 32 meter dan laju penipisan es sebesar 1 meter per tahun terjadi pada . Saat terjadi El Nino kuat pada tahun 2015-2016, penipisan es pun mencapai 5 meter per tahun. 

Sementara itu, Donaldi Sukma Permana, Pakar Klimatologi BMKG yang memimpin Studi Dampak Perubahan Iklim pada Gletser di Puncak Jaya menambahkan bahwa dalam rentang waktu tahun 2016-2022, laju penipisan es terjadi sekitar 2,5 meter per tahun. Adapun luas tutupan es pada tahun 2022 sekitar 0,23 kilometer persegi dan terus mengalami pencairan.

Menurutnya dampak nyata lainnya dari pencairan es di pegunungan ini adalah adanya kontribusi terhadap peningkatan tinggi muka laut secara global.

Dwikorita menekankan hal penting untuk menjaga dan melindungi lingkungan. 

”Kita perlu terus menjaga dan mengendalikan laju kenaikan suhu dengan cara mentransformasikan energi fosil menjadi energi yang lebih ramah lingkungan," jelas Dwikorita.