KOLOM ANDI SURUJI : Pak Ande, Suporter, dan PSM di Usia 106 Tahun

SEKEPING kenangan manis dengan sosok fenomenal almarhum Ande Abdul Latief. Tokoh yang menyebut dirinya "pelayan tamu Allah" (jemaah haji dan umrah), yang meninggal pada hari baik, Senin 25 Oktober 2021 lalu.
Suatu waktu di awal tahun 90-an ketika saya masih reporter yang biasa meliput pertandingan sepakbola, khususnya PSM Makassar, mendapat undangan makan siang di salah satu rumah makan terkemuka di Makassar.
Pengundangnya pengurus PSM. Waktu itu Ketua Umum PSM adalah Suwahyo, Walikota Makassar (ex officio). Ketua Harian Abdul Manan, seorang perwira polisi yang juga mantan pemain dan salah satu legenda PSM.
Pada acara makan siang pengurus dengan sedikit wartawan itulah saya mengenal Ande Abdul Latief. Dia datang khusus dari Jakarta ke Makassar untuk acara makan siang itu.
Sosok bertubuh besar, kulit agak gelap, itu tampil bicara. Berpakaian sederhana, tanpa aksesori. Sedikit ucapannya yang masih saya ingat. Namun, poin penting yang terus melekat dalam ingatan saya sampai sekarang: kita bangkitkan kembali PSM secara bersama-sama. PSM itu harga diri kita orang Makassar.
Ucapan motivasi itu bertenaga dengan suara berat Ande. Terasa heroik menggetarkan. Walaupun belum dielaborasi, tetapi komitmen itu disambut tepuk riuh hadirin.
Siapa Pak Ande ini. Saya mendapat informasi, Ande pengusaha sukses di Jakarta asal Makassar. Belakangan baru saya tahu dari senior saya di Kompas, Fahmy Myala bahwa Ande Latief bersaudara dengan La Tunrung, pengusaha penukaran uang di Makassar. Juga bersaudara dengan Prof La Tanro, dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin.
Dari Fahmy Myala juga saya ketahui Ande Latief pengusaha perjalanan ibadah haji dan umrah plus terkemuka. Bahkan boleh dibilang pelopor bisnis perjalanan haji dan umrah. Hubungan almarhum Fahmy Myala dengan Ande Latief sangat akrab.
Sampai di situ saja. Selebihnya saya ketahui kemudian Ande menjadikan rumahnya di jalan Andi Mappanyukki, tidak jauh dari Stadion Mattoanging, tak ubahnya markas besar suporter PSM. Setiap saat ramai suporter datang. Sering juga menjumpainya di stadion kalau PSM bertanding.
Strategi Ande Latief membangkitkan PSM dengan memulai membangun kecintaan dan keterlibatan suporter, sungguh tepat. Kebangkitan kembali rasa cinta suporter, seperti menjadi energi baru bagi PSM. Kebangkitan rasa cinta itu menular bagai virus pandemi menginfeksi begitu banyak orang.
Patut dicatat, waktu itu, sudah lebih 20 tahun PSM tidak pernah juara perserikatan lagi. Popularitas perserikatan pun seolah tergusur oleh liga sepakbola utama (galatama) yang beranggotakan klub-klub profesional, seperti Makassar Utama.
Perlahan tapi pasti, tim PSM yang dilatih Syamsuddin Umar mulai menemukan kembali pola dan karakter permainannya. Kata banyak pemerhati sepakbola, Juku Eja itu mulai menemukan kembali air asinnya.
PSM melaju ke putaran final Piala Perserikatan musim kompetisi tahun 1991/1992. Artinya PSM akan ke Jakarta bertarung dengan tim lain di Stadion Utama Senayan, kini Gelora Bung Karno.
Saya pun ditugaskan Kompas berangkat ke Jakarta, menguntit pergerakan PSM. Tidak boleh ada isu PSM yang lolos dari pemberitaan Kompas. Sering saya berdiskusi dengan Syamsuddin Umar mengenai tema yang saya mau tulis. Syamsuddin Umar memberi saya pengetahuan agar tidak diketawai orang kalau saya menulis sepakbola.
Bagaimana pun ada sedikit rasa kesal kalau membaca berita. Banyak yang menyebut PSM sebagai tim underdog, eufimisme dari tim yang diremehkan. Soalnya, PSM boleh dikata memang tertatih menuju Senayan.
Tetapi sebagai wartawan, saya tetap harus obyektif. Tidak boleh membawa dan menunjukkan perasaan itu dalam tulisan. Istilah anak milenial sekarang, jangan baper.
Saya menjadi saksi dan peliput pertarungan harga diri antara PSM dan PSMS Medan di puncak piala Perserikatan. Perkiraan 20 ribu suporter PSM seakan menelan gegap gempitanya 30 ribu suporter PSMS.
Dan anak-anak PSM di lapangan benar-benar bagai pasukan perang pantang menyerah. Menggempur pertahanan anak Medan dari segala arah. Begitu pula sebaliknya, mereka mengawal setiap jengkal zona pertahanannya.
Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau PSM pulang. Betapa bahagianya masyarakat Makassar yang waktu itu masih bernama Ujungpandang.
Redaktur Olahraga Kompas, Suryopratomo, yang kini Duta Besar Indonesia untuk Singapura, memerintahkan saya pulang ke Makassar ikut pesawat yang digunakan PSM. Supaya saya bisa melaporkan suasana penyambutan Sang Juara, yang telah lama dirindukan.
Tetapi tidak banyak detail yang bisa saya laporkan. Soalnya begitu PSM tiba di Bandara, hujan deras mengguyur Kabupaten Maros dan Makassar. Tetapi penjemputan tim PSM luar biasa. Massa menyemut di Bandara dan sepanjang jalan masuk kota. Sang Juara diarak keliling kota, tak peduli hujan lebat mengguyur.
Agar saya bisa memotret penggalan prosesi penjemputan dan arakan itu, saya minta tolong seseorang membonceng saya dengan sepeda motornya. Belum ada jasa ojek. Dia mau karena dia juga senang luar biasa. Basah kuyup kami, menyelinap di antara sepeda motor dan mobil peserta arakan. Makassar lautan merah.
Ande Latief sukses luar biasa. Selain mengawal PSM menjadi juara, meraih kembali mahkotanya, tak kalah pentingnya almarhum telah menanam benih kebangkitan kembali kecintaan masyarakat kepada PSM. Suatu modal luar biasa yang terasa sampai sekarang.
Rasa cinta dan kebanggaan pada PSM itu pula yang membuat walikota Ilham Arief Sirajuddin pengusaha lainnya, seperti Nurdin Halid, Erwin Aksa, Sadikin Aksa, Rully Habibie jatuh bangun berdarah-darah mempertahankan eksistensi PSM, hingga kini.
Lihatlah hari ini, Selasa 2 November 2021, di hari momentum ulang tahun PSM ke-106. Sejumlah kelompok suporter PSM, sebut saja The Maczman dan Laskar Ayam Jantan, akan memeringatinya dengan caranya sendiri. Mereka melakukan longmarch dari markasnya masing-masing menuju satu titik temu, bekas Stadion Mattoanging.
Itu semua sebagai bagian kecil dari begitu banyak indikator cinta mereka pada Klub Sepakbola tertua di Asia itu, sebagaimana yang pernah dirilis laman FIFA. Mereka mengekspresikan cintanya kepada PSM. Sekaligus mengirim pesan betapa rindunya mereka bertemu kekasihnya PSM di Stadion Mattoanging yang telah diruntuhkan Pemerintah Provinsi Sulsel, namun belum jelas kepan dibangun kembali.