CATATAN MUANNAS : Bismillah 2024

Oleh: Muannas
BISMILLAH 2024. Iya tulisannya sudah benar seperti itu. Bukan typo alias salah ketik. Sungguh-sungguh yang saya maksudkan adalah tahun 2024.
Terpaksa saya mengabaikan sejumlah rekomendasi kata yang muncul menjajakan diri. Tak ubahnya, masuk ke warkop dengan rekomendasi kopi berbagai varian, namun justru memesan jus alpukat. Rekomendasi teratas tentunya adalah tahun 2023. Rekomendasi itu lumrah saja. Sebab kita memang sedang membuka lembaran baru tahun Masehi 2023.
Tahun 2022 dengan segala kenangan manis maupun pahitnya baru saja pamit pergi. Iya pergi meninggalkan banyak kenangan, bahkan pantas dicatat dalam sejarah peradaban. Bukan hanya oleh pendukung Argentina lantaran Lionel Messi dan kawan-kawan sukses membawa trophy Piala Dunia Qatar 2022.
Trophy piala dunia sendiri terbuat dari emas padat dengan berat lebih 6 kilogram. Bila disetarakan emas batangan dan dirupiahkan, bernilai lebih 6 miliar rupiah (Rp1.026.000/gram). Wouw, sungguh fantastis.
Tahun 2022 juga sepertinya telah menjadi sesi akhir dari babak melelahkan pandemi Covid-19. Virus corona merebak dan menghantui kita sejak tahun 2019. Sejatinya, berakhirnya pandemi memang belum ada penetapan resmi dari pemerintah dan Badan Kesehatan Dunia W.H.O. Presiden RI Joko Widodo pun baru sebatas mencabut Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di seluruh wilayah Indonesia pada Jumat (30/12).
Namun demikian tontonan di sekeliling kita seperti mengkonfirmasi bahwa Covid-19 telah pergi menjauh. Jangan tanya kelompok-kelompok masyarakat di pinggiran kota, yang sejak awal memang seperti tak percaya sepenuhnya tentang covid.
Tengoklah pesta yang diadakan pejabat, semua sudah melenggang bebas tanpa masker yang menyembunyikan lukisan warna warni lipstik di bibir atau dari kumisnya yang hitam berarak. Semua sudah bisa tersenyum lebar, dijepret kamera, bergandengan tangan dan bersalaman. Kerumunan-kerumunan kegiatan masyarakat memang sudah normal seperti sebelum covid melanda.
Dalam ajang Piala Dunia Qatar, pun kita menyaksikan jubelan ribuan penonton yang berdesakan tanpa masker. Pun tak ada lagi pengecekan suhu di pintu masuk. Begitupun dengan syarat PCR test sebagai syarat penerbangan udara. Semoga saja covid benar-benar telah angkat koper dan lupa ingatan jalan pulang.
Di penghujung 2022, saya melakukan perjalanan darat keluar kota Makassar. Sebenarnya tidak untuk merayakan berakhirnya 2022 ataupun menyambut 2023. Tepatnya, ini perjalanan biasa membawa anak-anak sekolah keluar dari rutinitas sekolahan. Perjalanan untuk berinteraksi dengan alam, menghirup udara segar dan melupakan junk food di resto berpendingin AC. Liburan anak sekolah adalah waktunya untuk berkawan dengan alam.
Kali ini, menyusuri jalan darat trans Sulawesi, sebuah perjalanan yang menantang adrenalin. Di tengah hujan lebat dan angin kencang, fokus sangat dibutuhkan untuk menghindar terperosok dari jalanan berlubang. Lama tak menyaksikan wajahnya, jalanan trans Sulawesi ternyata didera kerusakan lumayan parah, bahkan pake banget di beberapa titik.
Berhati-hatilah bila melakukan perjalanan di jalur ini. Apalagi bila melakukan perjalanan menembus lebatnya hujan atau gelapnya malam, sehingga lubang di bahu jalan tak terlihat jelas.
Tiba-tiba mata saya tertuju pada sebuah baliho di sisi jalan dengan tulisan menonjol. “Bismillah 2024,” begitu tulisan utama pada baliho itu. Ada juga yang sekadar menulis “2024” dengan huruf tebal dan ukuran font yang besar.
Berharap, itu semua bukanlah pemberitahuan bahwa jalan rusak ini baru akan diperbaiki di tahun 2024. Sungguh terlalu lama, kalau harus menunggu tahun 2024. Walau tak dipungkiri, diperkirakan di tahun 2024, memang akan banyak bantuan yang disalurkan.
Ada apa di tahun 2024? Indonesia akan melaksanakan perhelatan politik yang besar di tahun itu. Ada pemilu nasional yang terdiri pemilihan presiden, DPR, DPD, DPRD, dan juga Pilkada serentak.
Nah, seperti kebiasaan-kebiasaan sebelumnya, jelang pemilu memang banyak yang mendadak suka membantu. Ya, membantu perbaikan jalan, membantu pembangunan masjid, membantu karpet, dan sebagainya. Ini mungkin sebuah strategi untuk menghindar dari politik uang, entahlah.
Sayangnya, usai pemilu atau pilkada, ada pula yang tak malu meminta kembali fasilitas yang sudah diberikan, gara-gara tidak terpilih dalam kontestasi tersebut. Tak peduli itu bantuan untuk tempat ibadah, misal karpet masjid dan lain-lain.
Baliho-baliho yang membonceng pesan menuju kontestasi Pemilu 2024 memang sudah ramai berderet di sisi jalan. Tak sekadar narasi tagline dan identitas, rupa-rupa pose dalam baliho itu tak ubahnya sebuah pameran foto cover boy dan cover girl. Ada yang tersenyum lebar, sumringah, ada yang mengepalkan tangan, melambaikan tangan, melipat lengan baju hingga menyatukan kedua tangan di dada seperti meminta restu atau meminta maaf.
Apapun yang ditampilkan dalam berbagai baliho itu, baik direpresentasikan dalam tanda dan simbol yang diwakili oleh teks visual dan teks tulis, sesungguhnya mengandung makna propaganda dengan maksud untuk menarik perhatian dan mendapatkan popularitas. Baliho memang salah satu alat propaganda politik dalam bentuk media kampanye luar ruang. Karenanya bisa disebut sebagai baliho politik.
Bertalian dengan pesan-pesan propagandanya, penekanan pada tahun 2024, sejatinya merupakan sebuah deklarasi untuk mewakafkan diri. Ketika terpilih dalam pelbagai jenjang kontestasi pada Pemilu 2024, maka saat itu tidak lagi hanya menjadi milik keluarganya saja, melainkan dirinya telah menjadi milik publik.
Artinya ide dan usahanya, tindak tanduknya haruslah ditujukan untuk kebaikan publik, dan bukan itu memperkaya diri sendiri dan keluarganya. Soal ini, biasanya banyak yang mendadak mengidap penyakit amnesia. Lupa ingatan, lupa deklarasi yang pernah dibuatnya melalui berbagai baliho dan media kampanye lainnya.
Muannas
Wartawan, Penanggunga Jawab Celebes TV, Celebes Radio, Celebesmedia.id.