Disebut Varian Baru, WHO: Risiko NeoCov Butuh Penelitan Lanjut

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Virus NeoCoV yang ditemukan di Afrika Selatan sedang viral dibahas beberapa waktu belakangan. Sebelumnya virus ini dilaporkan terkait dengan sindrom pernapasan Timur Tengah MERS-CoV, yang wabahnya tercatat pada 2012 dan 2015.
Kabar terbaru sejumlah media memperingatkan bahaya akan virus ini. Ilmuwan dari Wuhan China yang menyebutkan jika baru-baru ini Neocov akan lebih menular dan lebih mematikan daripada semua jenis sebelumnya, termasuk Omicron.
Menanggapi hal ini, organisasi kesehatan dunia, World Health Organization (WHO) menegaskan mereka mengetahui perkembangannya, tetapi virus tersebut memerlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan apakah itu menimbulkan risiko bagi manusia.
"Apakah virus yang terdeteksi dalam penelitian ini akan menimbulkan risiko bagi manusia akan memerlukan penelitian lebih lanjut," kata WHO seperti dikutip oleh kantor berita Rusia TASS, Jumat (28/1/2022).
Sebelumnya diberitakan virus NeoCov ditemukan pada populasi kelelawar di Afrika dan menyebar diantara hewan.
Virus ini juga mirip dengan SARS-CoV-2 yang menyebabkan Covid-19 pada manusia. Selain penularan yang disebut lebih cepat, virus ini juga berpotensi lebih mematikan.
Namun studi baru, belum ditinjau pakar lain dan dirilis dalam pracetak di website bioRxiv.