Kisah Pilu Lebaran di Gaza: Tak Ada Kudapan Manis, Apalagi Baju Baru

Anak-anak di Palestina antre ntuk mendapatkan makanan - (foto by Antara)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Sudah dua hari lalu berlalu sejak umat Muslim merayakan Idul Fitri. Hari yang harusnya menjadi momen bahagia bagi seluruh muslim di dunia, diisi dengan keceriaan. Namun tidak demikian dengan warga Palestina  yang bermukin di Gaza.

Di seluruh Gaza City, bekas perang terlihat di mana-mana. Bangunan-bangunan yang runtuh, jalan-jalan yang dipenuhi puing, dan infrastruktur yang rusak menggambarkan dampak dari konflik tersebut.

Di kamp pengungsi Al-Shati, sebelah barat Gaza City, Suad Abu Shahla (29) duduk di luar sebuah tenda kain yang telah koyak, mencoba menenangkan anaknya yang menangis.

Ibu empat anak itu kehilangan rumahnya di Beit Lahia pada November 2024 ketika pasukan Israel mengebom area tersebut. Sejak saat itu, Suad dan keluarganya harus menghadapi kondisi keras di tempat penampungan yang rapuh, yang hanya memberikan perlindungan minim dari cuaca dingin atau panas.

"Idul Fitri telah kehilangan maknanya di Gaza," tutur wanita itu kepada Xinhua.l

 "Sebelum perang, kami biasa membeli pakaian dan penganan manis untuk anak-anak. Sekarang, kami bahkan tidak mampu membeli roti."

"Anak-anak saya bertanya, 'Apakah kita akan mendapatkan baju baru? Apakah kita akan pulang ke rumah?' Namun, saya tidak dapat menjawabnya," imbuh Suad.

"Idul Fitri telah kehilangan maknanya di Gaza," tutur wanita itu kepada Xinhua. "Sebelum perang, kami biasa membeli pakaian dan penganan manis untuk anak-anak. Sekarang, kami bahkan tidak mampu membeli roti."

"Anak-anak saya bertanya, 'Apakah kita akan mendapatkan baju baru? Apakah kita akan pulang ke rumah?' Namun, saya tidak dapat menjawabnya," imbuh Suad.

Beberapa keluarga telah mulai kembali ke rumah mereka di Gaza utara, tetapi kini terpaksa mengungsi lagi.

"Tahun lalu, meski ada perang, kami coba menciptakan suasana gembira. Kini, saya bahkan tidak mampu membeli penganan manis untuk anak-anak saya," kata Marwan Al-Haddad (37), yang mengungsi dari Beit Hanoun setelah eskalasi serangan Israel pekan lalu.

Sumber : Xinhua - Antara