Kisah Pilu Remaja Palestina yang Ditahan Israel

Tentara Israel menangkap aktivis lokal dan asing saat protes atas perumahan Yahudi, di dekat Laut Mati di Tepi Barat, Sabtu (28/9/2019) - (foto bybAntara / Reuters)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Namanya Abdelrahman al-Zaghal (14). Seorang remaja Palestina sekaligus tahanan  termuda Israel yang dibebaskan dalam pertukaran tawanan dengan Hamas.

Namun malangnya, meski telah dibebaskan namun Zaghal belum bisa menjalani kehidupan normal seperti remaja pada umumnya.

Ia masih dalam tahap pemulihan dari cedera serius akibat penderitaan dalam tahanan. 

Zaghal ditembak oleh tentara Israel pada Agustus lalu ketika membeli roti untuk keluarganya di rumah.

Saat tervangun tangannya telah diborgol di ranjang rumahnsakit dengan dua poliso yang menjaganya. Kepala dan panggulnya terluka.

Israel menuding Zaghal melemparkan bom molotov, tetapi remaja Palestina itu membantah demikian melansir Antara, Senin (1/1/2024).

Najah, ibunya, mengatakan buah hatinya itu ditembak seorang pria yang menjaga permukiman Yahudi di dekat rumah mereka di Yerusalem Timur.

Kasus Zaghal bahkan dibawa ke pengadilan sipil Israel. Hakim memerintahkan agar Zaghal menjalani tahanan rumah, tetapi di luar lingkungan tempat tinggalnya sendiri, sampai akhir persidangan.

Pada hari pembebasannya, Zaghal melompat kegirangan. Namun, kegembiraannya terhenti karena dia harus menjalani operasi kerusakan otak akibat luka tembak, kata ibunya.

Selain masih dalam tahap pemulihan, Zaghal juga belum bisa bersekolah kembali karena masih dalam pengawasan militer Israel.

Zaghal kerap mengenang saat berenang di kolam Tel Aviv bersama mendiang ayahnya di akhir pekan dan  bercita-cita menjadi penjaga pantai. Ia mengatakan senang bersekolah dan ingin kembali belajar.

Penahanan Zaghal ini bukanlah kali pertama. Ia telah ditahan dua kali. Ia pernah ditahan saat berusia 12 tahun, setelah tentara memukulinya dengan senapan ketika dia sedang bermain dengan sepupunya di Yerikho. Zaghal mengatakan aparat menuduhnya melempari mereka dengan batu, tetapi dia membantahnya.

Zaghal adalah satu dari 240 warga Palestina yang dibebaskan Israel selama jeda kemanusiaan di Gaza pada November. Dia termasuk 104 warga Palestina berusia 18 tahun yang dibebaskan.

Terungkap, lebih dari separuh warga Palestina yang dibebaskan dalam kesepakatan tersebut, mereka ditahan tanpa tuduhan resmi, menurut catatan Israel.

Berdasarkan catatan Lembaga Defense for Children International-Palestine (DCIP), sejak 2000, militer Israel telah menahan sekitar 13.000 anak-anak Palestina, hampir semuanya laki-laki berusia 12-17 tahun.

"Ke mana pun anak-anak Palestina berpaling, selalu ada militer Israel yang melakukan semacam kendali atas kehidupan mereka," kata petugas advokasi DCIP Miranda Cleland.

Berdasarkan pernyataan tertulis dari 766 anak yang ditahan pada 2016-2022, DCIP menemukan bahwa sekitar 59 persen anak diculik oleh aparat Israel pada malam hari.

Sekitar 75 persen anak-anak menjadi korban kekerasan fisik dan 97 persen diinterogasi tanpa kehadiran anggota keluarga atau pengacara. Satu dari empat anak-anak itu ditempatkan di sel isolasi selama dua hari atau lebih, bahkan sebelum persidangan dimulai, kata Cleland.

Di wilayah pendudukan itu, warga Palestina dan Israel dikenakan sistem hukum yang berbeda. Warga Palestina, termasuk anak di bawah umur, dituntut di pengadilan militer.

Kementerian Pendidikan Israel mengatakan warga Palestina yang dibebaskan dari tahanan Israel tidak akan bersekolah hingga Januari 2024 dan malah akan dikunjungi oleh petugas yang ditugaskan mengawasi mereka.

Sumber : Reuters / Antara