Desak Anak Mereka Tinggalkan Gaza, Keluarga Tentara Israel : Letakkan Senjata!

Tentara Israel berjalan melewati reruntuhan ketika invasi darat di Jalur Gaza Utara, Palestina, Rabu (8/11/2023) - (foto by Antara / Reuters)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Keluarga ratusan tentara Israel yang sedang berperang di Gaza mendesak purra mereka meletakkan senjata dan kembali ke rumah mereka masing-masing.

Pernyataan ini berdasarkan laporan harian Israel Haaretz ada Selasa kemarin.

"Kami memberitahu anak-anak kami yang berperang bahwa mereka harus berhenti sekarang, untuk meletakkan senjata mereka dan kembali ke rumah secepatnya," kata keluarga para tentara tersebut dalam surat terbuka yang ditujukan kepada kepala otoritas pertahanan Yoav Gallant dan kepala staf militer Herzi Halevi, mengutip Antara, Kamis (13/6).

Para keluarga tentara Israel itu juga menyatakan tidak lagi mendukung perang Israel di Jalur Gaza. Terlebih setelah dikeluarkanya keputusan Knesset pada Senin (10/6) untuk menyetujui rancangan undang-undang yang mengecualikan para pria Ultra-Ortodok dari wajib militer.

"Sangat tidak masuk akal RUU seperti ini dapat disahkan sementara para tentara yang berani mempertaruhkan nyawa mereka," tambah mereka dan surat terbuka itu.

RUU tersebut disetujui untuk diajukan dengan 63 suara mendukung dari 120 kursi Knesset. Selanjutnya, RUU akan diberikan kepada Komite Urusan Luar Negeri dan Pertahanan dalam rangka persiapan pembahasan tahap kedua dan ketiga sebelum disetujui menjadi undang-undang.

RUU tersebut, jika disetujui, akan menurunkan usia wajib militer bagi orang Yahudi Ultra-Ortodoks dari 26 menjadi 21 tahun, sehingga "perlahan-lahan" meningkatkan jumlah wajib militer dari kalangan tersebut.

Sementara itu Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken pada Rabu (12/6) mengatakan Hamas telah mengusulkan revisi atau perubahan pada potensi kesepakatan gencatan senjata di Gaza dan pihaknya sedang berupaya untuk mencapai kesepakatan.

Saat ini tercatat korban tewas di jalur Gaza telah menembus angka 37.000 warga Palestina sejak serangan  7 Oktober 2023 lalu.

Sumber: Anadolu / Antara