Jaga Keberlangsungan Petani Kakao, Askindo Sulsel: Diperlukan Regenerasi

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Produksi komuditas kakao di Sulawesi Selatan (Sulsel) dari tahun-ke tahun terus menurun. Beragam masalah menjadi penyebabnya, baik itu serangan hama penyakit ataupun menurunnya kualitas tanah akibat penggunaan pupuk.
Berdasarkan data yang dihimpun tim liputan CELEBESMEDIA.ID dari Dinas Perkebunan Provinsi Sulsel, terjadi penurunan produktivitas tanaman kakao di Sulsel dalam 10 tahun terakhir ini.
Jika tahun 2009 produktivitas sebesar 0,77 ton per hektare, di tahun 2018 turun menjadi 0,61 ton per hektare.
Selain itu, pendapatan rata-rata petani kakao sebesar Rp 7.943.260 per hektare atau lebih kecil dari peluang potensi pendapatan sebesar Rp 20.000.000 - Rp 30.000.000 per hektare.
Sekretaris Eksekutif Asosiasi Pengusaha Kakao Indonesia (Askindo) Sulsel, La Odi Mandong, mengatakan, kondisi ini sungguh memprihatikan. Apalagi terhadap petani kakao karena tidak adanya regenerasi dari anak muda.
“Para petani kan menyekolahkan anak-anaknya tinggi-tinggi tapi tidak ada yang kembali mengelola kebun kakao itu. Tidak ada regenerasi. Kalau nanti seperti ini terus, lama-lama petani kakao tidak ada dan ini sangat disayangkan,” ungkapnya.
Langkah regenerasi ini, lanjut La Odi, perlu dicanangkan oleh pemerintah, menyelesaikan setiap masalah yang ada di sektor perkebunan kakao.
"Kondisi ini pun berdampak pada lemahnya kontrol dalam hal pengendalian mutu. Ini menyebabkan rendahnya produktivitas biji kakao, khususnya kakao rakyat, mulai pada pemilihan bibit sampai pemasaran,” pungkasnya.