Sejak Bea Keluar Diterapkan, Ekspor Kakao Menurun Drastis

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Sulawesi Selatan dikenal sebagai
salah satu pemasok kakao terbesar di Indonesia. Namun, saat ini produksi kakao menurun
sejak 5 tahun terakhir.
Sekretaris Eksekutif Asosiasi Pengusaha Kakao Indonesia
(Askindo) Sulsel, La Odi Mandong pun tak memungkiri sejak beberapa tahun
terakhir komoditi kakao memang terus mengalami penurunan.
“Ada beberapa hal yang menjadi kendala produktivitas,
seperti hama, penyakit, dan tanaman yang sudah tua. Namun ada faktor lain juga
yang menyebabkan penurunan produksi kakao, itu sejak bea keluar yang diterapkan
pada tahun 2010,” ungkapnya kepada tim liputan CELEBESMEDIA.ID, Rabu
(20/3/2019).
Menurut La Odi, menurunnya nilai ekspor kakao Sulsel sangat
signifikan terjadi pada produksi biji kakao. Berdasarkan data 5 tahun terakhir,
di tahun 2014 ekspor kakao sebesar 32.809 ton, 2015 sebesar 27.681 ton, lalu
2016 sebesar 19.790 ton, 2017 sebesar 14.578 ton dan tahun 2018 sebesar 9.329
ton.
“Meski begitu kami tetap optimistis, ya kami berharap para
stakeholder terus saling bahu-membahu dan bersinergi membangun produksi kakao,
harus ada aksi dalam mengembalikan kesejahtraannya,” tambah La Odi.
Penurunan drastis untuk nilai ekspor kakao
Sulsel membuat kakao berada di urutan kelima dengan nilai ekspor komoditi
terendah. Padahal sebelumnya, kakao selalu menduduki posisi kedua nilai ekspor
tertinggi setelah komoditi nikel.