Sulsel Pemasok Jagung Nomor Tiga Nasional

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Provinsi Sulawesi Selatan
merupakan salah satu sentra produksi jagung nasional. Sekjen Dewan Jagung
Nasional, Maxdeyul Sola, mengatakan bahwa produksi jagung Sulsel menduduki
posisi tertinggi ketiga secara nasional di bawah Jatim dan Jateng.
Pada 2018 lalu, produksi jagung Sulsel mencapai 2,3 juta
ton. Angka tersebut melebihi target produksi yakni 2,1 juta ton. Sementara total
lahan tanam jagung di Sulsel seluas 450.000 hektare.
Beberapa kabupaten yang sentra pertanian jagung di Sulsel
adalah Kabupaten Gowa, Takalar, Bantaeng, Bulukumba, Bone, Jeneponto, Wajo, dan
Pinrang.
“Setiap tahun produksi dan luas lahan pertanian jagung terus
meningkat, khususnya jagung hibrida. Tahun lalu, penggunaan jagung hibrida sebanyak
65 persen dari luas klahan jagung di Indonesia. Produksi jagung nasional
sekarang mencapai 5,6 ton per hektar dengan luas lahan 5,7 hektar,” papar Maxdeyul
Sola dalam ekspo tanaman jagung bertema “Gelar Teknologi Pertanian Syngenta” di Desa Pencong, Kecamatan Biringbulu, Kabupaten Gowa,
Rabu (2/10/2019).
Sementara secara nasional, produksi jagung nasional pada tahun 2018 sebanyak 31 juta ton. Tahun ini ditargetkan bisa
meningkat menjadi 33 juta ton.
Untuk meningkatkan produksi, dibutuhkan bibit yang unggul, teknologi
dan serta cara atau praktik pertanian yang baik, termasuk dalam penggunakan
pestisida.
Di Desa Pencong yang berbatasan dengan Kabupaten Jenoponto
memiliki kondisi lahan yang kering, dan berbukit/miring. Biasanya, masyarakat
akan membasmi gulma dengan cara manual yaitu dicabut sebelum ditanami bibit
jagung. Cara ini terbilang beresiko karena akan membuat erosi, khususya di
lahan miring.
Karena itu, Syngenta mengajak masyarakat menerapkan praktik
agronomi yang baik sejak penyiapan lahan hingga pemeliharaan tanaman. Penyiapan
lahan dilakukan dengan menerapkan sistem pertanian konservasi dengan olah tanah
minimum menggunakan herbisida Gramoxone.
Gramoxone juga membantu petani meningkatkan produktivitas jagung dengan cara menekan persaingan gulma dengan tanaman. Selain itu, teknologi Gramoxone juga berperan dalam konservasi lahan karena dapat mengurangi erosi tanah terutama pada lahan-lahan miring.
Petani jagung di Desa Pancong mendapat pemahaman tentang penutup tubuh saat akan menggunakan pestisida
“Gramoxone telah dipakai diseluruh dunia dan membantu petani
tidak perlu lagi menggarap lahan secara berat. Gramoxone akan mematikan gulma
di bagian atas, sementara akar tetap mengikat tanah sehingga mencegah terjadinya
erosi. Gulma yang mati pun bisa menjadi pupuk untuk tanaman jagung,” kata Head
of Business Sistainnability Syngenta, Midzon Johanis.
Gramoxone sangat cocok digunakan di lahan jagung di
Kabupaten Gowa maupun di wilayah pertanian lainnya yang mayoritasnya berada di
lahan miring/berbukit. Kabupataten Gowa memiliki sekitar 40.000 ha lahan
jagung.
“Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam
penggunaan normal sesuai rekomendasi, Gramoxone tidak berpengaruh negatif
terhadap kesehatan manusia dan lingkungan,” kata Direktur Industri Kimia Hulu
Kementerian Perindustian, Fredy Juwono.
Petani jagung di Desa Pencong, Saparuddin Dg Tola,
mengatakan sejak menggunakan Gramoxone, ia tidak lagi repot dalam membasmi
gulma. Cukup disemprotkan, setelah 3 hari, Gulma akan mati dan lahan sudah bisa
ditanami bibit jagung.
“Produksi jagung kami mulai meningkat bisa mencapai 3-4 ton di
lahan sekitar 1 hektar ini,” katanya.
Petani jagung pun mulai merasakan kemakmuran karena biaya
produksi mulai ditekan. Sementara harga jual di tingkat petani mulai naik. Saat
ini berada di kisaran Rp 3.700-Rp 3.900 per kilogram dengan kadar air 15
persen.