Banyak Negara Terjebak Utang ke China, Nilainya Tembus Rp 69.640 Triliun

CELEBESMEDIA.ID, Jakarta - Pinjaman Pemerintah China kepada negara-negara lain terus menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun belakangan. Namun, seperti dirilis CELEBESMEDIA.ID dari CNBCIndonesia, ada fakta menarik dalam sebuah laporan lembaga think thank asal Jerman, yaitu Kiel Institute for the World Economy, seperti dikutip, Senin (15/7/2019).
Menurut laporan itu, banyak pinjaman yang 'tersembunyi'. Maksudnya adalah pinjaman itu tidak dilaporkan atau dicatat oleh lembaga resmi seperti International Monetary Fund (IMF), Bank Dunia (World Bank), atau Paris Club (sekelompok negara kreditor).
Selama kurun waktu 2000-2017, utang negara-negara lain kepada China melonjak 10x lipat, mulai dari US$ 500 miliar (Rp 6.964 triliun) hingga lebih dari US$ 5 triliun (69.640 triliun). "Ini telah mengubah China menjadi kreditor resmi terbesar melampaui IMF atau Bank Dunia," tulis laporan itu seperti dikutip CNBC International.
Tercatat ada 50 negara berkembang yang meminjam dari China dengan nilai utang meningkat rata-rata 1% dari PDB mereka tahun 2015, menjadi lebih dari 15% pada tahun 2017. "Negara-negara berpenghasilan menengah ke atas cenderung menerima aliran utang portofolio melalui pembelian obligasi People's Bank of China. Akibatnya, banyak negara maju menjadi sangat berutang budi kepada Pemerintah China," tulis laporan itu.
Perkiraan menunjukkan bahwa China sekarang menyumbang seperempat dari total pinjaman bank ke pasar negara berkembang. Analis di Kiel Institute, Christoph Trebesch, mengatakan tren pinjaman internasional China merupakan bukti dari pertumbuhan ekonomi yang cepat dari suatu negara. Hal itu juga merupakan bukti dari kebijakan "going global" dari Pemerintah China.
Seperti diketahui, China banyak terkena kritikan karena membebani banyak negara dengan utang melalui Belt and Road Initiative. BRI merupakan program berupa rencana investasi infrastruktur global yang besar untuk membangun jalur kereta api, jalan, laut dan lainnya, yang membentang dari China ke Asia Tengah, Afrika dan Eropa.