ASAL-USUL : Sabar Mak, Harga-harga Melonjak...

Pedagang sayuran di Pasar Terong Makassar - (Dok CELEBESMEDIA.ID)

BEBERAPA hari terakhir ini, harga berbagai kebutuhan pokok dilaporkan melonjak tak keruan. Mulai telur, cabai, sayuran, sampai minyak goreng.

Ah, kalau harga berkejaran naik, gak usah beli. Tunda makan cabai, tunda beli telur, tunda pakai minyak goreng. Tidak usah goreng-goreng atau tumis-tumis. 

Jadi, semua rebus-rebus saja? Enak saja. Emangnya kita orang Korea, orang Jepang? Kebanyakan rebus-rebus. 

Mana mau ibu-ibu tak punya cabai, telur, minyak goreng di rumah. Kiamat kecil itu. Bisa jadi persoalan besar. Pasti emak-emak bakal gugup di dapur. 

Kenaikan harga kebutuhan pokok bisa dijelaskan dengan teori ekonomi. Yaitu hukum suplai dan permintaan. 

Jika kebutuhan melonjak dan pasokan stabil biasanya harga naik. Apalagi jika suplai ke pasar memang menurun.

Nah pasokan bisa menurun karena gangguan cuaca. Misalnya terjadi gagal panen, atau produktivitas tanaman yang rendah. Kalau pun produksi stabil, tetapi harga tetap naik, mungkin terjadi karena kebutuhan naik.

Di akhir tahun lalu, seperti biasa, ada dua peristiwa yang sering jadi kambing hitam kenaikan harga-harga kebutuhan rumah tangga. Apalagi kalau bukan hari raya Natal dan tahun baru. 

Heran juga, mengapa tudingan selalu dialamatkan kepadanya. Padahal kan bisa diantisipasi. Anu berulang. 

Sialnya, memang, terjadi cuaca ekstrem. Eh pedagang di Makassar, seperti Pasar Terong, Pasar Karuwisi, Maricaya, Pa'baeng-baeng, sudah fasih juga bilang cuaca ekstrem. Hujan deras dan angin kencang, mengakibatkan banjir dan banyak pohon tumbang atau tanah longsor. 

Akibat semua itu, banyak tanaman rusak. Maksud hati panen baik, malah kerugian yang datang. Akses dari desa ke kota terputus beberapa hari. 

Tetapi mana mau emak-emak ngerti teori ekonomi, cuaca ekstrem. Pokoknya, walaupun pasokan menurun ya harga jangan naik dong. Kan gaji suami tidak naik. 

Penghasilan malah mengkerut karena aktivitas masyarakat dibatasi gara-gara Si-Covid masih gentayangan. Orang takut disenggol dia. Apalagi setan Covid baru muncul lagi, namanya Omicron. 

Jika sudah semua begitu yang terjadi, jangankan rasa dan harga cabai yang pedas. Mulut Emak-emak pun bisa lebih pedas. Soalnya, merekalah yang paling duluan merasakan jika harga kebutuhan pokok naik.

Emak-emak kan menduduki jabatan sebagai penanggung jawab keuangan keluarga. Mereka di posisi terdepan garda pertahanan dan ketahanan serta stabilitas keuangan rumah tangga. 

Kalau kenaikan harga berlangsung sesaat mungkin sebatas omelan saat belanja saja. Tetapi jika berlangsung lama, bisa jadi persoalan berat. Bisa mengganggu stabilitas rumah tangga.

Kalau harga berkejaran naik, itulah inflasi. Kalau harga turun ya deflasi. Nah kalau terjadi inflasi di pasar tradisional berarti dompet emak-emak deflasi. Daya belinya terkuras. Untuk mendapatkan volume dan jumlah barang yang sama, mereka harus mengeluarkan uang lebih banyak dibanding sebelumnya.

Tahu karakter emak-emak kan. Selisih seribu perak aja bisa ditawar berjam-jam. Negosiasi ketat. Memang seribu selisihnya, tapi kalau kali banyak, kan lumayan juga. Begitu prinsipnya. 

Dengan upaya stabilitas harga bahan pokok dari pemerintah, berarti pemerintah juga telah menjaga stabilitas keuangan rumah tangga masyarakat. Lebih cepat lebih baik. Nah asal-usul nih, ayolah pemerintah cepat dong bantu masyarakat. 

Sayangnya pemerintah lebih suka berwacana ketimbang aksi nyata. Mencari kambing hitam lebih gampang dari memikirkan solusi. Lebih senang menunggu perintah dan pembagian jatah dari Pusat. Miskin kreativitas dan terobosan.