Ironi Melesatnya Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen yang Tak Nyata, Ini Kata Ekonom

Ketua Program Studi Doktor Ilmu Ekonomi Unhas, Dr. Anas Iswanto dalam Dialog Celebes Economic Outlook (CEO) Celebes TV, Selasa (10/8/2021)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Pertumbuhan ekonomi Indonesia melesat 7,07 persen pada kuartal II 2021. Angka ini dicapai dari hitungan perbandingan ekonomi kuartal II 2021 dengan ekonomi kuartal II 2020 yang minus 5,32 persen. 

Meskipun tumbuh tinggi dan bahkan melebihi ekspektasi, namun kenyataannya angan tersebut seakan semu sebab tidak dirasakan oleh masyarakat luas dan sektor riil.

Ketua Program Studi (KPS)Doktor Ilmu Ekonomi Unhas, Dr. Anas Iswanto Anwar menjelaskan jika di masa pandemi ini masyarakat terbagi dalam 2 klaster, yakni masyarakat ekonomi menengah ke atas dan masyarakat ekonomi menengah ke bawah. 

Mereka yang hidup berkecukupan yang masuk dalam kelompok masyarakat ekonomi menengah atas ini yang tidak terpengaruh pandemi. Justru kebutuhan rumah tangga mereka yang meningkat selama masa pandemi ini yang mendongkrak angka pertumbuhan ekonomi. 

Terbukti berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan itu ditopang oleh beberapa komponen utama. Komponen itu adalah konsumsi rumah tangga (RT 5,93 persen dan investasi yang topangannya mencapai 7,54 persen.

"Jadi memang ada masyarakat yg tidak terpengaruh pandemi. Misalnya kelompok masyarakat ekonomi menengah ke atas. Mereka juga memiliki dana-dana yang kuat. Selama pandemi, konsumsi mereka juga tinggi misalnya menambah vitamin, menambah kualitas hidupnya. Kita bisa lihat produk-produk yang meningkat tajam itu, produk-produk kesehatan," jelas Dr Anas dalam Dialog Celebes Economic Outlook  (CEO) bertema "Menggugat Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen" di Celebes TV, Selasa (10/8/2021). 

Lebih jauh Dr Anas membeberkan jika yang terkena dampak dari pandemi ini adalah kelompok masyarakat ekonomi menengah ke bawah yang sebelumnya berpenghasilan dari aktivitas harian tiba-tiba tidak berpenghasilan karena adanya pembatasan aktivitas lewat PPKM. 

"Yang merasakan dampak dari pandemi ini adalah masyarakat ekonomi ke bawah, misalnya penjual-penjual tepi jalan itu. Mereka yang paling merasakan. Jadi artinya pertumbuhan ekonomi ini tidak berdampak pada kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat," jelasnya. 

Seyogyanya indikator pertumbuhan ekonomi negara kita untuk kesejahteraan bersama. Maka kaitannya jika pertumbuhan ekonomi meningkat, harusnya investasi pun turut meningkat, kesempatan kerja juga meningkat. Begitupula pendapatan turut naik yang pada akhirnya menurunkan angka kemiskinan.