KOLOM ANDI SURUJI : Tomas dan Toga di Pilpres Amerika Serikat

Andi Suruji . 09-11-2019, 08:24
Shamsi Ali bersama Michael Bloomberg - (ist)

APAKAH Amerika Serikat mengenal Pilkada atau pemilihan kepala daerah seperti di Indonesia? Mungkin begitu pertanyaan yang melintas di benak saat membaca judul tulisan ini. 

Ya, jawabnya. Pilkada itu adalah cara konstitusional dan jalan demokratis memilih kepala daerah. Gubernur, walikota atau bupati. 

Nah di Amerika Serikat yang memang kiblatnya demokrasi, masyarakat memilih walikota. Jadi Pilkada dong namanya.

Terus, ada juga istilah Toga dan Tomas yang diperhitungkan perannya dalam perolehan suara? Tomas adalah akronim dari tokoh masyarakat. Toga dari kata tokoh agama. 

Jadi sama juga di Indonesia, mereka pun diperlukan dukungannya terhadap kandidat. Bukan hanya dalam konteks Pilkada tetapi juga dalam Pilpres. 

Teman saya, Uztads Shamsi Ali, putra Bulukumba, Sulawesi Selatan, pendiri Pesantren Nusantara dan Imam di New York menceritakan soal itu melalui whatsapp.

Karena dia pendiri dan memimpin pesantren, imam masjid pula, jelas Shamsi Ali termasuk Toga dan Tomas. Besar pula pengaruhnya.

Sejak peristiwa 9/11 di tahun 2001, Shamsi Ali telah diangkat menjadi salah seorang “Clergy Liaison” atau penghubung antara Kepolisian NY dan Komunitas Muslim New York. Posisi yang hingga saat ini masih dipertahankan.

Bahkan beberapa tahun lalu dia masih menjadi pelatih sensitivitas budaya (Cultural Sensitivity Training) di Akademi Kepolisian New York (NY Police Academy). 

"Tadi pagi saya dikontak timnya Michael Bloomberg, (mantan Walikota New York) untuk mendukungnya. Dia mau maju (Pilpres melawan Donald Trump-Red)," kata Shamsi Ali, Jumat malam, pagi waktu New York.

Sejak peristiwa teror serangan teroris yang dikenal dengan peristiwa nine-eleven (9/11) Shamsi Ali dekat dengan Michael Bloomberg. 

"Bahkan ada dua hal yang saya ingat selalu. Pertama, sewaktu akan maju untuk periode ketiga, yang aturannya hanya dua periode, beliau undang perwakilan masyarakat. Termasuk perwakilan agama. Saya mewakili komunitas agama (bukan hanya Islam)," katanya.

"Kedua, ketika terpilih dengan 70% suara, dia ke Islamic Center, dengar khutbah saya dan bahkan ikut sholat Jumat. Sholat politik...hehe," lanjut Shamsi Ali.

"Sekarang dia akan maju dari calon Demokrat. Belum diumumkan. Tapi saya sudah dikontak timnya minta didukung...hehe," ujarnya.

Saya pun segera memverifikasi kabar Shamsi Ali dengan bertanya pada "Om Google" . Yes... I got it.

Michael (Mike) Bloomberg, pendiri media Bloomberg LP yang juga mantan walikota New York, dikabarkan siap melaju ke Pemilihan Umum Presiden Amerika Serikat (AS) pada 2020, melawan Donald Trump.

Kabar itu disampaikan seorang penasihat Mike kepada NBC News, yang dikutip CNBC International.

Sumber itu membeberkan alasan Mike ingin maju ke pilpres karena ia prihatin melihat kondisi Partai Demokrat maupun Presiden Trump.

"Mike percaya bahwa Donald Trump merupakan ancaman yang belum pernah ada sebelumnya terhadap bangsa kita. Pada 2016, ia berbicara di Konvensi Demokrat, menyerukan untuk waspada terhadap kepresidenan Trump," kata penasihat utama Bloomberg, Howard Wolfson.

"Pada tahun 2018 ia menghabiskan lebih dari US$ 100 juta untuk membantu memilih Demokrat untuk memastikan bahwa Kongres mulai meminta pertanggungjawaban Presiden. Dan tahun ini dia membantu Demokrat memenangkan kendali kedua majelis legislatif Virginia."

Mike saat ini adalah seorang anggota independen dari Partai Republik. Ia juga seorang Demokrat. Ia adalah pemegang saham dan memiliki 88 persen bisnis Bloombeeg LP.

Reaksi

Sedih 0%

Marah 0%

Senang 0%

Terkejut 0%

Guest

0 Comment