Duet WWF, Mahasiswa UTS Tanam 3.000 Mangrove di Bontoa Maros

Bucek . 27-11-2019, 19:00

CELEBESMEDIA.ID, Maros - Bekerjasama World Woldlife Fund (WWF), mahasiswa Universitas Teknologi Sulawesi  (UTS) Makassar melakukan penanaman 3.000 bibit mangrove di kawasan pesisir Desa Ampekale, Kecamatan Bontoa, Maros, Rabu (27/11/19). Kegiatan yang bertajuk “Pesisirku Hijau, Bumiku Hijau” ini bertujuan untuk menyokong dan memotivasi masyarakat nelayan dalam gerakan penghijauan kawasan pesisir.

Kegiatan tersebut merupakan salah satu program dari kuliah kerja nyata (KKN) mahasiswa UTS di Bontoa, Maros.

Menurut panitia kegiatan yang juga peserta KKN UTS, Firman, kawasan Bontoa merupakan pusat pemukiman nelayan dan petani yang memiliki lahan tambak cukup luas. Akan tetapi area sebagaian besar tambak di kawasan ini terancam tidak  berproduksi karena kualitas air pesisirnya yang mulai tercemar.

Oleh karena itu, dalam kegiatan KKN ini, mereka menggalakkan upaya menciptakan keberlanjutan lingkungan pesisir dengan menanam Mangrove.

“Mangrove dapat dapat mereduksi bahan-bahan kimia yang mencemari air untuk kebutuhan tambak di pesisir. Benteng dari abrasi yang disebabkan ombak dan menjadi habitat aneka ragam binatang laut yang menjaga rantai kehidupan di pesisir,” jelasnya.

Hal sama diungkapkan Staf Akuakultur WWF Indonesia, Idham Malik. Menurutnya, kawasan tambak di Bontoa ini merupakan salah satu yang rawan tidak dapat berproduksi, khususnya untuk budidaya udang karena kualitas air pesisir yang banyak mengandung timbal.

“Selain itu, proses budidaya di tempat ini sebelumnya, kurang memperhatikan lingkungan budidaya yang berkelanjutan karena memproduksi banyak limbah nitrat dan phospor berlebihan. Penanaman Mangrove dapat mereduksi proses daur ulang kebutuhan air untuk tambak tersebut. Karena itu, kami sangat mendukung kegiatan adik-adik mahasiswa KKN UTS di Bontoa ini,” terangnya.   

Selain didukung WWF, kegiatan tanam mangrove ini juga disokong oleh pemerintah desa setempat dengan melibatkan warga yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan dan petani tambak.

Berikutnya, mereka ini yang nantinya akan terlibat mengontrol pertumbuhan tanaman tersebut.

Menurut pihak UTS, tahun 2019, mereka sengaja memilih lokasi kegiatan di desa-desa nelayan. Selain sebagai kegiatan reguler Tri Dharma perguruan tinggi, KKN ini juga bertujuan untuk meningkatkan kapasitas mahasiswa sebagai tenaga pemberdayaan.

“Mereka diharapkan hadir sebagai solusi dengan ide-ide inovatif dan kreatif di tengah kesulitan masyarakat. Apalagi mereka generasi milenial. Gerakan kembali ke tengah masyarakat desa ini tidak kalah pentingnya dengan bisnis startup yang sepertinya menjadi orientasi semua generasi milenial sekarang ini.

“Lebih khusus lagi masyarakat nelayan, dibanding petani atau masyarakat agraris, masyarakat nelayan memiliki masalah yang lebih kompleks dari sisi sosial dan ekonomi,” jelas Zainal Gunawan yang dipercaya sebagai Ketua Panitia KKN UTS 2019.(*)

Laporan: Boim dari Maros

Tags : Magrove Maros WWF

Reaksi

Sedih 0%

Marah 0%

Senang 0%

Terkejut 0%

Guest

0 Comment