4 Jenis Phising, Kejahatan Siber dengan Upaya Pengelabuan untuk Mendapatkan Identitas

Jenis Phising, Kejahatan Siber dengan Upaya Pengelabuan untuk Mendapatkan Identitas (foto: freepik.com)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Kejahatan siber dilakukan oleh individu yang memiliki pengetahuan tentang teknologi dan informasi.

Kejahatan ini memiliki dampak lintas batas dan tidak terbatas oleh ruang dan waktu, sehingga sulit dideteksi secara konvensional.

Meningkatnya kejahatan siber menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan masyarakat.

Salah satu bentuk kejahatan siber yang umum terjadi adalah upaya pengelabuan untuk mendapatkan identitas, disebut sebagai phishing.

Phishing berasal dari kata "fishing" yang artinya memancing, dengan tujuan menipu orang agar memberikan informasi pribadi secara sukarela tanpa menyadarinya.

Data yang menjadi target utama phishing mencakup informasi pribadi seperti nama, usia, alamat, data akun (username dan password), atau data finansial seperti informasi kartu kredit dan rekening.

Pelaku phishing umumnya menghubungi target melalui website atau email palsu, telepon, atau pesan teks yang sangat meyakinkan, sering kali menyamar sebagai pihak atau institusi yang berwenang.

Beberapa jenis phishing yang sering terjadi antara lain:

  1. Email phishing, menggunakan email yang dikirim secara masif dan acak.
  2. Whaling, menarget individu dengan kewenangan tinggi dalam organisasi.
  3. Spear phishing, mengirim email kepada target tertentu.
  4. Web phishing, menggunakan website palsu.

Data korban phishing sering dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber untuk:

  1. Menjual informasi kepada pihak ketiga yang membutuhkan data calon konsumen, seperti dalam kegiatan pemasaran online.
  2. Menjalankan aksi penipuan, misalnya dengan menyatakan bahwa seseorang memenangkan suatu undian dan meminta pengiriman uang.
  3. Menggunakan data yang diperoleh untuk membobol akun korban.
  4. Melakukan pinjaman online atas nama korban dengan menggunakan data pribadi korban, yang kemudian menagih pelunasan atas pinjaman tersebut.

Kejahatan siber menyebabkan berbagai kerugian bagi organisasi, termasuk penurunan reputasi, kehilangan data penting, kerusakan pada perangkat lunak dan sistem komputer, serta kerugian finansial yang signifikan.***