Pengertian Efek Rumah Kaca dan Proses Terjadinya

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Dilansir oleh Jurnal dari Universitas Islam Sumatera Utara, efek rumah kaca adalah kondisi di mana suhu bumi mengalami peningkatan.
Peningkatan suhu ini disebabkan oleh penjebakan sinar matahari gelombang panjang (infra merah) oleh gas-gas rumah kaca.
Dampak dari fenomena efek rumah kaca memiliki potensi mengancam kehidupan manusia, mengganggu keseimbangan ekosistem, dan merusak lingkungan.
Jika tidak segera diatasi, efek rumah kaca dapat berkontribusi pada pemanasan global.
Efek rumah kaca juga didefinisikan sebagai struktur bangunan dengan dinding dan atap yang terbuat dari kaca.
Tujuannya adalah menangkap panas matahari saat siang hari dan menjaga kehangatan di dalam bangunan pada malam hari.
Petani di negara dengan empat musim menggunakan prinsip serupa untuk menjaga pertumbuhan tanaman dalam kondisi hangat, meskipun suhu malam hari cenderung dingin.
Analogi ini mencerminkan efek rumah kaca alamiah, di mana panas matahari terperangkap di atmosfer bumi dan menyebabkan peningkatan suhu.
Dalam pandangan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman, efek rumah kaca merujuk pada peningkatan suhu bumi akibat perubahan komposisi atmosfer.
Fenomena ini mengakibatkan cahaya matahari tertahan di bumi dan tidak dapat dipantulkan kembali ke atmosfer.
Ditemukan bahwa konsep efek rumah kaca pertama kali diperkenalkan oleh ilmuwan Joseph Fourier pada tahun 1824.
Ia mengartikan efek ini sebagai proses pemanasan yang disebabkan oleh komposisi atmosfer.
Meskipun efek rumah kaca pada dasarnya adalah fenomena alamiah, perhatian meningkat karena peningkatannya yang cepat dapat menyebabkan dampak negatif pada bumi.
Proses terjadinya efek rumah kaca mendasarkan pada fakta bahwa sinar matahari yang dipantulkan oleh permukaan bumi dapat merusak lapisan ozon.
Lapisan ozon berfungsi menghalangi cahaya matahari dalam atmosfer.
Jika lapisan ozon menipis, hal ini berakibat pada peningkatan suhu di permukaan bumi. Hal ini diperburuk oleh tingginya konsentrasi karbondioksida di atmosfer.
Gas ini menyerap radiasi matahari, menyebabkan peningkatan suhu di bumi.
Pentingnya menjaga keseimbangan ozon di bumi mendorong untuk mengurangi penggunaan bahan dan aktivitas yang dapat menghasilkan karbondioksida serta merusak lapisan ozon.
Efek rumah kaca disebabkan oleh peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer.
Menurut protokol Kyoto, ada enam jenis gas rumah kaca yang diakui, termasuk karbondioksida (CO2), metana (CH4), nitrooksida (N2O), chloro-fluoro-carbon (CFCs), hydro-fluoro-carbon (HFCs), dan sulfur heksafluorida (SF6).
Peningkatan gas CO2 disebabkan oleh pembakaran bahan bakar seperti minyak, batu bara, dan bahan organik lainnya.
Penggunaan tumbuhan untuk CO2 cukup terbatas, sehingga konsentrasi CO2 di atmosfer terus meningkat.
Untuk mengatasi efek rumah kaca, ada beberapa langkah yang dapat diambil manusia, seperti efisiensi penggunaan listrik, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, dan pengelolaan sampah yang lebih baik.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan efek rumah kaca dapat ditekan dan dampaknya dapat diperkecil.***