Merawat Kemabruran Puasa (5): Berorientasi Husnul Khatimah

Menteri Agama Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA - (foto by Kemenag)

Oleh: Menteri Agama Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA

JIWA akan sehat dan terpelihara kalau kita terbiasa berfikir sehat, proaktif, dan berorientasi kepada husnul khatimah, ending kehidupan yang baik dan ideal. Inilah salahsatu hikmah puasa yang kita rasakan. 

Khusus melakukan tugas dan pekerjaan sebaiknya diupayakan berorientasi kepada husnul khatimah/positive thinking. Melakukan pekerjaan dengan berorientasi husnul khatimah diawali dengan niat atau perencanaan yang luhur dan baik. Kita harus berusaha menyingkirkan kesenangan dan kebahagiaan sesaat dengan mengorbankan perinsip dan nilai-nilai luhur kehidupan.

Jika kita berasumsi segalanya diciptakan dua kali, yaitu ciptaan mental (blue print)  yang biasa diistilahkan dengan niat, dan ciptaan fisik atau eksekusi sebuah program dengan perhatian lebih focus dan profesional, maka sudah barangtentu blue print-nya sesuai konsep husnul khatimah. 

Kita harus bisa memastikan bahwa semua perbuatan kita berangkat dari konsep husnul khatimah, diawali dengan niat yang baik dan luhur semenjak pemunculan awal gagasan itu (masyi’ah), lalu mengukur kemampuan (istitha’ah), dan terakhir ketika gagasan itu direalisasi atau dieksekusi (kasab) dipastikan sedah melalui wjud niat yang tepat.

Pertama kita diminta untuk membuat perencanaan yang visible (blue print)  yang sesuai dengan konsep husnul khatimah. Bule print tentunya harus didesai dengan konsep proaktif, bukannya reaktif. Harapan kita apa yang direncanakan sejak awal itulah yang menjadi kenyataan. 

Dengan demikian, sesungguhnya setiap perbuatan itu dilaksanakan dua kali. Sekali di dalam bentuk konsep dan kedua kalinya dalam bentuk actions. Sedemikian penting hal ini, maka Allah SWT  mencontohkan Dirinya tidak melakukan perbuatan-Nya sekali tetapi selalu dua kali, yaitu sekali dalam bentuk blue print di Lauh al-mahfudh dan kedua kalinya dalam bentuk kenyataan di alam syahadah ini. 

Kesemuanya ini memberikan hikmah betapa manusia juga sebaiknya mengerjakan perbuatannya dua kali, sekali dalam perencanaan dan kedua kalinya dalam bentuk actions (hasab).

Antara perbuatan pertama (niat) dan perbuatan kedua (actions) sedapat mungkin tidak terjadi perbedaan berarti. Apa yang ada di dalam konsep dan perencanaan itulah yang menjadi kenyataan. Satau set antara niat dan  perbuatan sesungguhnya itulah jalan lurus (shirath al-mustaqim). 

Perbuatan yang tidak sesuai dengan niat semula boleh jadi disebut jalan yang dimurkai Tuhan (al-magdhub) atau jalan sesat (al-dhalin). Keselarasan antara blue print (ciptaan pertama) dengan perbuatan (ciptaan kedua) membutuhkan kepemimpinan dan manajemen. 

Manajmen dimaksudkan di sini tidak lain adalah adalah mengerjakan hal-hal yang baik dan benar secara konsisten. Melakukan pebuatan baik dan benar secara konsisten sesungguhnya juga memerlukan manajmen kalbu, yaitu pengelolaan kalbu secara baik dan benar. Caranya tentunya bagi umat beragama caranya ialah konsisten mengukuti tuntunan ajaran agama secara telaten.

Untuk mencapai husnul khatimah di dalam urusan duniawi kita maka diperlukan penetapan sasaran-sasaran atau tujuan program yang bisa dicapai  yang dapat dicapai. Kita tidak boleh melupakan sasaran-sasaran tersebut. 

Sesederhana apapun suatu tujuan tetap kita tidak boleh melupakannya. Karena itu, jangan pernah kita tidak menghargai hal-hal yang kecil dan sederhana dalam hidup ini, karena kebanyakan yang menggagalkan hidup seseorang bukan hal besar tetapi hal-hal kecil.

Artikel ini telah ditayangkan Tribun Timur, Edisi 5 Maret 2025