Merawat Kemabruran Puasa (7): Lebih Banyak Diam
2.jpg)
Oleh: Menteri Agama Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA
ADA pepatah kuno mengatakan: diam adalah emas dan bicara
adalah perak. Kita bisa setuju atau tidak dengan pepatah ini tetapi yang pasti
kita sendiri seringkali menyesal karena terlalu banyak bicara.
Kita juga sering bersyukur karena bisa bersikap diam dan
mengendalikan diri sehingga terbebas dari fitnah dan marabahaya. Kita juga
sering setuju dengan pernyataan, kita lebih gampang disuruh bicara ketimbang
disuruh diam. Yang pasti mungkin semuanya kita pernah memilih diam sebagai
jawaban yang paling tepat.
Nabi Zakaria juga pernah mengalami hal ini sebagaimana
diungkapkan dalam Surah Maryam. Ia sangat berhasrat memiliki anak. Ia tak
pernah berhenti berdoa meskipun usianya sudah tua dan isterinya juga demikian.
Sebagai wujud tanda syukur dan sekaligus nazar sekiranya ia
berhasil dikaruniai anak maka ia akan berpuasa biara selama tiga hari,
sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an: “Zakaria berkata: "Ya Tuhanku,
berilah aku suatu tanda".
Tuhan berfirman: "Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak
dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal kamu
sehat". (Q.S. Maryam/19:10). Akhirnya doanya dikabulkan dan Nabi Zakaria
pun menunaikan nazarnya dengan berpuasa bicara selama hari yang ditentukan.
Diam atau puasa bicara bukan pekerjaan mudah bagi orang
normal. Namun Allah SWT selalu mengingatkan kita agar hati-hati soal bicara,
sebagaimana firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada
Allah dan katakanlah perkataan yang benar”. (QS. Al-Ahzab/33:70).
Dalam hadis Nabi disebutkan: “Barangsiapa yang beriman
kepada Allah dan Rasulunya maka hendaklah ia mengatakan yang benar atau lebih
baik diam”. Nabi juga mengingatkan kita: “Sesungguhnya dosa yang paling banyak
dilakukan oleh anak cucu Adam adalah pada lidahnya”. “Musibah itu terwakili
melalui ucapan”. “Sesungguhnya dosa yang paling banyak dilakukan oleh anak cucu
Adam adalah pada lidahnya”.
“Barangsiapa yang banyak bicara, banyak juga kekeliruannya.
Barangsiapa yang banyak kekeliruannya, banyak juga dosanya. Barangsiapa yang
banyak dosanya, maka nerakalah yang paling tepat tempatnya”. Banyak lagi ayat
dan hadis mengingatkan kita agar jangan mengumbar pembicaraan yang tidak perlu.
Kalangan sufi ada yang pernah mengatakan bahwa diam adalah
keselamatan dan itulah yang esensial, sedang bicara adalah bukan esensial.
Orang-orang masih memperselisihkan, mana yang lebih utama antara diam dan
bicara.
Namun, yang lebih tepat adalah masing-masing antara diam dan
bicara memiliki keutamaan dibandingkan dengan yang lain tergantung pada situasi
dan kondisinya. Diam lebih utama dilakukan pada situasi dan kondisi tertentu,
dan pada situasi lain, justru bicara lebih utama, tergantung situasi dan
kondisi tentunya. Namun perlu juga diingat tidak selamanya diam itu pilihan terbaik.
Adakalanya seseorang harus dan wajib biara, terutama
menyuarakan kebenaran, sebagaimana sabda Nabi: “Katakanlah kebenaran itu
meskipun pahit”. Basyar al-Hafi pernah mengatakan: “Jika suatu pembicaraan
membuatmu terkagum-kagum, maka sebaiknya anda diam saja. Dan jika diam justru
membuatmu terkagum-kagum, maka sebaiknya anda angkat bicara”.
Hal senada juga disampaikan Lukman kepada puteranya: “Jika
bicara itu adalah perak, maka diam adalah emas. Sesungguhnya aku menyesali atas
suatu ucapan berulang-ulang, namun aku tidak menyesali diam sekali pun. Abu Ali
al-Daqqaq juga pernah berkomentar: “Barangsiapa diam dari kebenaran, maka dia
adalah setan bisu”. Dalam situasi lain, seseorang yang diminta untuk biara
harus bicara, terutama jika pembiaraan itu mendatangkan maslahat dan mencegah
mudharat.
Bisa dicontohkan, jika seorang hamba berbicara mengenai
sesuatu yang dapat menolongnya dan sesuatu yang mesti dia bicara, maka hal itu
masih dikategorikan sebagai diam. Konon, Abu Hamzah al-Baghdadi adalah seorang
yang bagus bicaranya, lalu terdengar suara memanggilnya: “Engkau berbicara dan
bicaramu bagus, sekarang tiggallah engkau diam sehingga engkau menjadi bagus.
Setelah itu, ia tidak pernah lagi bicara hingga wafatnya.
Terkadang sikap diam bagi seseorang merupakan suatu etika
baginya, sebab dengan berbicara, justru ia merusak etikanya sendiri, atau dalam
sebuah majelis tersebut terdapat seorang yang lebih patut berbicara, atau
terdapat manusia dan jin yang tidak menjadi pendengar terhadap pembicaraan itu,
dengan sikap diam seperti ini, maka Allah akan memeliharanya.
Sebagian ulama mengatakan: “Manusia diciptakan dengan hanya
satu lidah, dan dua mata dan dua telinga adalah agar ia melihat dan mendengar
lebih banyak dari pada brbicara.” Allahu a’lam.
Artikel ini telah ditayangkan Tribun Timur, Edisi 7 Maret
2025