Merawat Kemabruran Puasa (4): Hidup Ini Adalah Seni
1.jpeg)
Oleh: Menteri Agama Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA
AKHIRNYA kita bisa menyadari bahwa memang hidup ini adalah
seni. Ada tantangan, perjuangan, dan problem tetapi ada keindahan, kenikmatan,
dan kebahagiaan. Yang pasti hidup ini harus dijalani. Hidup ini juga harus
disiasati.
Hidup ini juga adalah pelajaran. Bahkan pepatah mengatakan
‘Pengalaman adalah guru paling baik’. Kenapa harus menderita kalau bisa
bahagia? Kenapa harus dipesulit jika bisa dipermudah? Kenapa harus rumit jika bisa simpel?
Pernyataan-pernyataan ini mengisyaratkan kepada kita bahwa
hidup ini memang perlu dimanaj dan perlu disiasati. Jawabannya sesungguhnya
sudah terasa di dalam bulan suci Ramadhan, yang energi spiritualnya amat kuat.
Ada sejumlah kiat yang ditawarkan oleh para arifin di dalam
menjalani kehidupan ini. Di antaranya ialah memiliki barang-barang yang
benar-benar kita butuhkan dan sebaiknya kita sisihkan daftar barang yang kita
inginkan. Dalam kenyataan hidup ini sesungguhnya kebutuhan kita sedikit, yang
banyak adalah keinginan.
Kita harus membedakan secara tegas antara kebutuhan dan
keinginan. Kebutuhan adalah benar-benar mendesak dan sangat diperlukan,
sedangkan keinginan lebih merupakan harapan-harapan ideal yang belum terpilah
mana kebutuhan primer dan mana kebutuhan sekunder.
Adakalanya hidup ini perlu dijalani secara praktis-fragmatis
tetapi ada juga dimensi di dalam hidup ini memerlukan visi, misi, dan filosofi.
Di dalam Islam niat menjadi amat penting di dalam menjalani kehidupan ini.
Manusia memiliki dua kapasitas, yaitu sebagai hamba dan khalifah.
Hidup sebagai hamba membutuhkan pengabdian dan hidup sebagai
khalifah membutuhkan tanggung jawab. Sekali lagi, niat menjadi amat penting
karena niat bukan sekedar terucapnya maksud dan tujuan di ujung lidah tetapi
secara inplisit juga mengisyaratkan adanya program atau planning dan
controlling.
Hidup sistematis dan teratur tidak berarti memasang
jerat-jerat dalam kehidupan yang menghalangi kemerdekaan dan kebebasan hidup.
Ala bisa karena biasa, kita perlu menunmbuhkan sikap dan karakter yang
sekaligus modal dasar di dalam menjalani kehidupan ini.
Jika tatanan hidup sudah menjadi karakter maka akan terasa
mudah menjalani kehidupan ini. Meskipun orang lain mungkin prihatin dengan
ketatnya pola kehidupan yang dipilih tetapi yang bersangkutan merasakan kenyamanan dengan pola itu. Bahkan
ia akan merasakan hidup ini simpel dan ringan karena ideology hidupnya sudah
menjadi karakter yang melekat di dalam dirinya.
Bagi orang yang beriman, hidupnya akan terasa lebih mudah
dan simpel, karena segalanya ia serahkan kepad Tuhan setelah ia melakukan
usahanya secara professional. Kata iman itu sendiri seakar kata dengan aman
(merasa aman), amanah (bertanggung jawab), mu’min (orang yang komitmen
memelihara kepercayaan).
Orang yang beriman tidak akan merasa kecewa karena percaya
akan adanya takdir. Setelah ia berusaha sedemikian rupa tetapi hasilnya tidak
seperti yang diharapkan, ia ditenangkan oleh sebuah keyakinan bahwa manusi yang
berusaha dan Tuhan Yang Maha Menentukan.
Itu sesuai dengan firman Allah: Kemudian apabila kamu telah
membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (Q.S. Ali Imran/3:159).
Artikel ini telah ditayangkan Tribun Timur, Edisi 4 Maret
2025