Merawat Kemabruran Puasa (1): Meneguhkan Visi Kehidupan

Oleh: Menteri Agama Prof Dr KH Nasaruddin Umar, MA
MESKIPUN bulan Ramadan telah berlalu tetapi spirit Ramadan
sedapat mungkin kemabruran amaliah yang telah kita lakukan di dalamnya tetap
dipetahankan. Kemambruran suatu ibadah sangat ditentukan oleh kemampuan
seseorang mengelola kalbunya.
Jika seseorang mampu mengelola kalbunya dengan baik tentu
kemabruran ubudiyah di dalamnya tetap bertahan. Namun jika seseorang gagal
mengelola kalbunya maka akan lebih mudah kehilangan kemabruran ubudiyahnya.
Kemampuan seseorang untuk dapat merawat kalbu dan pikiran
sangat menentukan kemabruran martabat tersebut. Alquran mengingatkan kita,
perlunya merawat indera batin kita.
Sebagaimana diingatkan dalam ayat: Dan sesungguhnya Kami
jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai
hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka
mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda
kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya
untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan
mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Q.S.
al-A’raf/7:179).
Langkah pertama yang harus dilakukan dalam merawat
kemabruran ibadah ialah ketegasan di dalam menentukan visi hidup. Allah SWT
menegaskan sebuah pertanyaan substansial kepada manusia di dalam sebuah ayat
berdiri sendiri: “Maka kalian mau kemana?” (Q.S. al-Takwir/81:26). Pertanyaan
Tuhan ini, bukan menanyakan sebuah perjalanan pendek tetapi road map kehidupan
kita. Arah perjalanan hidup ini mau ke mana? Tentu bukan hanya kehidupan
duniawi kita yang berjangka pendek tetapi perjalanan panjang kehidupan ini sampai
di hari akhirat tanpa batas.
Hidup ini tidak lain adalah sebuah perjalanan panjang
sebagaimana di dalam firmannya: Tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu
melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka? (Q.S. Yusuf/12:109).
Dalam ayat lain Allah SWT menyerukan setiap orang untuk
menjalani kehidupannya dengan memahami petunjuk (directions) yang Allah SWT
sendiri berikan sebagai sarana di dalam menempuh perjalanan itu, sebagai aman
disebutkan: Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunah Allah; karena
itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat
orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (Q.S. Ali ‘Imran/3:137).
Pengetahuan amat diperlukan dalam menjalani visi kehidupan
ini. Pengetahuan dan directions itu sudah diletakkan Allah SWT di sekitar diri
kita: Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?
(Q.S. al-Dzariyat/51:21).
Dalam ayat lain disebutkan: Siapakah Tuhan selain Allah yang
akan mendatangkan sinar terang kepada kalian? Apakah kalian tidak mendengar?
(Q.S. al-Qashash/28:71). Dan directions paling nyata sesungguhnya ialah
Alquran: Apakah mereka tidak mengkaji Al Qur'an? (Q.S. al-Nisa’/4:82).
Kita tinggal diminta untuk berfikir memikirkan directions
itu: Apakah kalian tidak berfikir? (Q.S. Yasin/32:62). Apakah sama orang yang
buta dengan orang yang melihat?" Maka apakah kamu tidak memikirkan (nya)?
(Q.S.al-An’am/6:50).
Ayat-ayat di atas cukup menjadi dasar dan sekaligus menjadi
keyakinan bagi kita bahwa hidup ini bukanlah sesuatu tanpa tujuan. Kita diminta
untuk menempuh perjalanan hidup ini dengan baik dan benar jika kita ingin
berhasil. Hidup ini tidak bisa ditempuh secara sembrono tanpa tujuan dan mekanisme
untuk mencapai tujuan itu.
Allah menciptakan sesuatu di dalam diri kita sesuatu yang
amat penting. Jika sesuatu itu berhasil maka berhasillah totalitas kehidupan
ini, dan jika itu gagal maka gagallah total kehidupan ini. Sesuatu itu menurut
Rasulullah saw ialah kalbu kita. Mari kita memanaj kalbu sebaik-baiknya.
Artikel ini telah ditayangkan Tribun Timur, Edisi 1 Maret
2025