KOLOM ANDI SURUJI: Selamat Jalan Punggawa, Lunas Janji Ngopi Kita

DALAM suatu perjalanan dari Jakarta menuju Makassar, saya agak terlambat tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Buru-buru naik pesawat karena sudah panggilan terakhir.
Nafas masih agak ngos-ngosan ketika tiba di dalam pesawat. Tanpa tengok kiri dan kanan, saya menyimpan ransel di kabin.
Ketika hendak duduk di kursi sebelah kanan lorong pesawat sesuai yang tertera pada boardingpass, saya dengar ada suara yang menyapa nama saya.
Saya berbalik, ternyata Ichsan Yasin Limpo, duduk di kursi paling kiri deretan kursi saya. Kami saling melempar senyum. Saya hampiri dan bersalaman. Ia mempersilakan saya duduk di sampingnya.
"Duduk di sini saja kita cerita-cerita. Sudah lama kita tidak ngobrol," katanya.
Saya pun duduk di sampingnya. Hanya ada satu penumpang lain di kelas bisnis penerbangan swasta itu.
Pertemuan itu seolah firasat pertemuan terakhir. Memang, saya tidak sering, bahkan boleh dikatakan sangat jarang bertemu dengan IYL. Dalam hitungan saya, hanya empat kali bertemu dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir.
Sebelum pertemuan di pesawat itu, terakhir bertemu almarhum di acara Pertemuan Saudagar Bugis Makassar tahun 2018. Sekali dalam acara open house Wakil Presiden HM Jusuf Kalla di kediamannya Jalan Haji Bau Makassar.
Pada tahun 2012, ada satu urusan saya dengan IYL. Waktu itu ia masih di Jakarta dan hari itu juga akan kembali ke Makassar setelah melakukan perjalanan dinas ke luar negeri. Saya pun sudah di Makassar. "Kita ketemu di rumah jabatan ya. Sekitar pukul 10 malam," katanya.
Saya kaget juga Pak Bupati Gowa ini mau menerima saya pukul 10 malam. Apakah ia tidak capek dari luar negeri terus lanjut ke Makassar? Semula saya pikir paling juga ditunda. Tetapi saya tetap langkahkan kaki juga dari Makassar ke Gowa.
Di pintu masuk ada aparat sipil yang berjaga. Saya lapor bahwa saya sudah janjian dengan Pak Bupati. Petugas keamanan kompleks itu bilang Bapak ada. Tunggu saja di depan rumah.
Tidak lama menunggu, pegawai itu datang mempersilahkan masuk. Saya masuk disambut IYL. Tidak lama Adnan, putranya juga ikut nimbrung. Itulah pertamuan pertama saya dengan Adnan, yang kemudian menjadi Bupati menggantikan ayahnya.
Selama penerbangan, banyak hal yang kami cerita. Terutama cita-citanya mengenai sistem pendidikan nasional. Konsepnya tentang pendidikan yang membangun karakter anak.
Ia sangat bersemangat bercerita tentang gagasannya soal pendidikan. Pendidikan harus gratis karena itu menyangkut hak dasar manusia dan cita-cita kemerdekaan bangsa ini, rakyat merdeka dari kebodohan. UNESCO pun mengganjarnya penghargaan di bidang ini.
Menjelang sampai Makassar, saya tanya tentang hubungannya dengan Nurdin Abdullah, gubernur Sulsel yang mengalahkannya dalam kontestasi pilkada. "Tidak ada masalah, begitulah demokrasi dan demokrasi. Putranya menikah saya datang. Kita kan sahabat," katanya.
Sebelum berpisah di bandara Sultan Hasanuddin, kami janjian untuk saling kontak, melanjutkan diskusi sambil ngopi-ngopi. Belum sempat ngopi-ngopi, IYL sudah terkabarkan sakit dan berjuang menghadapi kanker yang menggerogotinya, dirawat di Singapura.
Janji adalah utang, kata orang bijak. Tetapi utang ngopi bareng itu sebenarnya telah terbayar lunas jauh sebelum kita membuat janji, ketika IYL memenuhi komitmennya bertemu dengan saya di tengah malam dalam kondisi lelah selepas dinas ke Jakarta dan luar negeri. Dia komit.
Itulah sepenggal kenangan saya dengan IYL, sosok yang memegang janji dan komitmennya. Banyak anak muda bertanya di mana dan kapan saya mengenal tokoh-tokoh Sulsel seperti IYL, SYL, Ilham Arief Sirajuddin dan sebagainya.
Saya kenal IYL di eranya dia dan anak-anak muda Makassar pada zamannya masih suka reli mobil di tahun 1980-an. Dan menjadikan tiga warung kopi terkemuka di Makassar yang masih lestari hingga kini, yakni Phoenam, Tongsang, dan Warkop Lagaligo sebagai titik kumpul berbagi informasi dan menjalin persahabatan, tanpa pandang latar belakang yang beragam.
Selamat Jalan Punggawa. Lunas sudah janji ngopi kita.