30 Pelaku UKM di Maros Ikut Lomba Desain Kemasan Produk

Kadis Kopumdag Maros, Frans Johan saat melakukan penilaian pada lomba desain kemasan produk UKM Selasa (11/12/2018) - (bahar)

CELEBESMEDIA.ID, Maros – Sebanyak 30 Usaha Kecil Menengah (UKM) dengan produk makanan olahan mengikuti lomba desain kemasan produk UKM yang digelar Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan (Kopumdag) Kabupaten Maros di kobi Kantor Bupati Maros Selasa (11/12/2018).

Kepala Dinas Kopumdag Maros, Frans Johan yang bertindak sebagai salah satu tim penilai mengatakan, salah satu penyebab UKM di Maros tidak berkembang karena kemasan produknya kurang menarik.

"Estetika kemasan produk UKM tidak ada, sehingga baru dilihat kemasannya konsumen sudah tidak berminat dan memang dari beberapa produk makanan olahan yang ditampilkan ada yang seperti itu. Ini yang kita nilai kemasannya saja, jadi bukan rasa atau kualitas produk," ujarnya sambil menjelaskan bahwa selain dirinya, dua akademisi bidang desain kemasan dari Unhas dan UNM serta perwakilan pelaku usaha UMKM di Maros turut dilibatkan sebagai tim penilai.

Dalam pameran tersebut, beberapa kriteria penilaian harus dipenuhi oleh UKM makanan olahan seperti estetika kemasan, konsep inovasi dan kreatifitas serta pesan kemasan, termasuk legalitas dan teknologi kemasan, keamanan, kekuatan, mudah dan bernilai ekonomis serta informasi nilai gizi. Selain itu, ada juga penilaian sertifikat halal, standar nasional Indonesia (SNI), merek dagang, komposisi, tanggal kadaluarsa, berat bersih, nama dan alamat produsen hingga petunjuk penyimpanan.

"Sebuah produk makanan olahan harus memuat informasi penting dalam kemasan, jadi bukan hanya kemasan yang menarik tapi informasi harus jelas. Setelah ini, yang memenuhi kriteria akan kita dorong menjadi produk unggulan Maros. Jadi ini bisa dibilang, menyaring produk UKM untuk masuk ke gerai pusat oleh-oleh Maros," papar Frans.

Tentang hadiah yang disiapkan pihaknya, Kadis Kopumdag Maros menjelaskan bahwa para pemenang akan mendapat uang pembinaan, sementara peserta lainnya akan mendapatkan pelatihan desain kemasan untuk UKM.

Salah satu akademisi dari UNM yang bertindak sebagai tim penilai, Abdul Azis Said mengatakan, kendala utama UKM tidak berkembang karena masih banyak pelaku usaha yang tidak memahami desain kemasan. Menurutnya, produk tidak hanya bertumpu pada tampilan estetika tapi harus memuat informasi lengkap sehingga tidak menimbulkan keraguan pada konsumen.

"Misalnya ada produk makanan olahan yang tidak mencantumkan alamat produsen, kemudian setelah dimakan ternyata konsumen mengalami keracunan. Kalau tidak ada informasi alamat produsen, konsumen mau komplain kemana," bebernya.

Selain promosi yang kurang, lanjut Abdul Azis, ada pelaku UKM yang juga tidak mengindahkan bahan kemasan yang rentan terhadap kontaminasi, misalnya plastik. "Kemasannya plastik tapi makanannya ada yang berjenis hot spicy, itu tentu berbahaya karena menimbulkan panas padahal kemasannya plastik," jelasnya.

Azis menambahkan, untuk membantu UKM Maros, pihaknya akan menerjunkan 45 relawan untuk melakukan pendampingan terhadap pelaku usaha UMKM. "Tinggal Kopumdag mengeksekusinya, apakah mau atau tidak," tuturnya.