Butuh Perhatian, Ini Potret Perempuan 'Penghuni' Jembatan Penyeberangan Sudirman

Andi Musdana, perempuan yang tinggal di Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Sudirman. - (foot by: Zizi)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Katanya nasib itu ibarat roda yang berputar. Kita tak akan pernah tahu kapan Sang Pencipta menempatkan kita di posisi atas atau sebaliknya. 

Kondisi ini mungkin relevan dengan yang dialami Andi Musdana. Ia tak pernah menduga dalam jalan hidupnya akan ada garis nasib yang menggiringnya untuk tinggal di jalanan. 

Tentu tak ada yang menginginkan hidup terkatung-katung di tengah keramaian kota. Begitupun dengan Andi Musdana.

Ia pernah merasakan tidur nyenyak tanpa takut akan dinginnya angin malam. Ia juga tak pernah khawatir akan datangnya rasa lapar.

Namun siapa yang menyangka kini ia harus merasakan itu. Musdana panggilan akrab wanita berusia 39 tahun ini. Sejak 6 bulan terakhir ia tidur beralaskan seadanya di atas Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di Jalan Sudirman Makassar.

Selembar terpal rapuh pemberian temannya menghalangi dinginnya lantai di tempat peristirahatan yang ia anggap sebagai rumah. 

Layak? Tentu saja tidak. Tempat itu tidak layak untuk disebut sebagai sebuah rumah. Tak ada kamar mandi, dapur, apalagi ruang untuk menerima tamu. Terlebih jika mendung menyapa. Beruntung jika mendung itu hanya berakhir pada hujan gerimis. Namun jika cuaca kurang bersahabat terpal usang alas tidurnya akan basah terkena  bulir-bulir hujan disertai angin kencang. 

Belum lagi jika ingin mandi, tentu ia harus pandai melihat kondisi sekitar. Jika belum ramai, Musdana akan bersegera membersihkan diri di atas jembatan penyebrangan tersebut.

"Saya mandi di sini. Airnya kadang air hujan yang ditampung. Kadang juga air yang saya ambil tidak jauh dari sini", ucap Musdana lirih. 

Hidup sebatang kara. Bukan karena tak memiliki sanak keluarga. Musdana dulu tinggal bersama kerabatnya di Jalan Kandea Makassar, namun pada akhirnya ia memutuskan untuk hidup sendiri karena tak ingin menjadi beban bagi keluarganya. 

"Dulu saya tinggal di rumah keluarga tapi tidak mau merepotkan keluarga jadi memilih hidup sendiri, cari makan sendiri," lanjutnya. 

Kebutuhan hidupnya ia penuhi dari hasil memulung. Setiap hari, sebelum fajar menyingsing Musdana bergegas mengelilingi Kota Makassar mencari botol bekas, besi tua ataupun kardus-kardus yang sudah tak terpakai yang tergeletak di depan jejeran ruko di pusat kota. 

Hasil 'perburuannya' ia jual ke pengepul barang bekas. Dalam sehari kadang ia mendapatkan Rp20 ribu, jika beruntung Musdana bisa mengantongi Rp30 ribu atau lebih. Kadang pula ia harus menahan rasa lapar karena tidak mendapat rupiah di hari itu. Makan seadanya yang penting perut tidak lagi lapar. Itulah yang selalu Musdana tekankan pada dirinya.

"Untuk makan saya dapat dari hasil memulung. Hasilnya biar sedikit tetap diusahakan cukup. Kalau tidak begitu saya tidak bisa makan," jelas Musdana. 

Entah sampai kapan wanita yang sebentar lagi menginjak usia kepala empat ini akan menggantungkan nasib pada gancu dan sebuah karung yang ia bawa berkeliling kota. Ia bukannya tidak pernah bermimpi untuk kembali merasakan hidup layak. Musdana juga ingin merasakan hidup berkecukupan, mengumpulkan rupiah per rupiah hingga cukup membuat sebuah usaha berupa warung kecil yang bisa menopang hidupnya.

"Saya sangat berharap ada bantuan pemerintah sini, biar saya bisa buat warung kopi kecil-kecilan supaya tidak lagi memulung, karena kalau dari hasil memulung susah untuk menabung. Hasilnya dipake untuk makan," ungkapnya.

Miris, di tengah hiruk pikuk keramaian kota dengan gedung-gedung megah tinggi menjulang, ternyata masih ada warga yang tak memiliki tempat tinggal, bahkan untuk disebut sebuah gubuk juga tak layak.