PPKM di Tengah Inflasi, Ekonom: Masyarakat Jangan Terlena Euforia

CELEBESMEDIA.ID, Makassar- Indonesia kembali mengalami lonjakan Covid-19. Pemerintah akhirnya menetapkan kembali menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiata Masyarakat (PPKM) level 1 di sejumlah daerah termasuk di Makassar.
Keputusan pemerintah terkait penetapan PPKM level 1 ini ibarat simalakama. Keputusan yang dilematis. Pasalnya bersasarkan rilis Badan Pusat Statistik Indonesia saat ini tengah mengalami inflasi 4,99 persen, khusus Makassar besar inflasi juga cukup tinggi 1,25 persen.
Terlebih berkaca pada tahun sebelumnya, saat diberlakukan PPKM, perekonomian di semua wilayah Indonesia merosot. Semua serba dibatasi. Jam operasional pusat perbelajaan, warung, toko bahkan pasar pun diatur. Aktivitas jual beli di luar rumah menjadi sepi. Permintaan juga tentunya akan menurun, produksi pun berkurang sesuai permintaan konsumen. Hal ini tentu berdampak besar pada sektor ekonomi.
Ekonom sekaligus Guru Besar Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Prof Marsuki DEA menjelaskan setiap diterapkannya PPKM pastinya akan menghambat aktivitas perekonomian, namun pemerintah tetap harus melakukannya untuk menekan laju penyebaran Covid-19.
"Ini pilihan yang sulit karena ada dampaknya di nasional serta di provinsi dan daerah termasuk kota juga. Kenapa begitu? Karena jika PPKM maka aktivitas terhambat," jelasnya dalam Blak-blakan Seru, Rabu sore (3/8/2022).
"Mudah-mudaban hal ini sifatnya sementara karena kalau ini naik level dampaknya cukup panjang," lanjutnya.
Meskk demikian, kata Prof Marsuki, bukan berarti kembali merosotnya perekonomian ini tidak bisa dicegah. Sebab inflasi yang terjadi saat ini pun muncul akibat euforia karena melemahnya pembebasan. Aktivitas telah dobatasi dengan ketat.saat PPKM level 3 dan 4 kemarin tiba-tiba dilonggarkan.
Hal ini memunculkan euforia masyarakat untuk beraktivitas di luar rumah. Belanja makin besar. Pusat perbelanjaan menjadi ramai. Orang-orang semakon rajin ke pasar atau makan di luar rumah.
"Persoalannya inflasi ini juga akibat euforia ada pembebasan Terutama di komunitas makanan, telekomunasi, transportasi. Itu adalah komunitas yang mendorong infalsi meningkat saat ini," jelasnya.
"Masyarakat jangan terlalu boros dulu, jangan terlalu benyak belanja yang tidak penting dulu, jangan terlena reuforia dulu. Masyarakat harusnya mulai memprioritaskan belanja," katanya.
"Pemerintah, Pemkot dan Pemda mengarahkan APBN dan APBD sektor yang bagus. Sektor yang membantu masyarakat beraktifitas banyak misalnya UMKM. Jangan di sektor yang tidak langsung dampaknya. Begitu pula alokasi anggaran juga perlu diatur agar masyarlat sebagai pelaku ekonomi iti jgn merasa berat," tutupnya.