JEJAK ULAMA (19), KH Lanre Said (1923 – 2005)
KH Lanre Said - (handover)
CELEBESMEDIA.ID, Makassar – KH Muhammad Said, lebih dikenal KH Lanre Said, ulama asal Bone, Sulawesi Selatan, yang digolongkan seorang sufi. Banyak peristiwa tak masuk akal menemani jejak dan kiprah dakwahnya, terutama dalam merintis Pesantren Darul Huffadz.
Salah seorang anaknya, KH Saat Said, mengungkapkan, ayahnya pernah bergabung pasukan Darul Dakwah/ Tentara Islam Indonesia (DI/TII) secara tidak sengaja. Ketika itu, ia menjadi tameng untuk membebaskan keluarganya yang ditawan gerombolan DI/TII.
“Beliau waktu itu disandera dengan pertaruhan kalau beliau tidak masuk hutan, maka keluarganya yang akan menjadi korban. Maka untuk menyelamatkan keluarganya adalah beliau masuk hutan dan keluarganya keluar dari hutan waktu itu,” kata KH Saad Said, anak KH Lanre Said, yang kini memimpin Pesantren Darul Huffad.
Pemimpin Besar DI/TII, Kahar Muzakkar, sempat mengangkat KH Lanre Said sebagai Ketua Mahkamah Syariah DI/ TII.
Ditambahkan Saad Said, ayahnya juga pernah bergabung dengan Partai Masyumi sebagai kendaraan perjuangannya. Belakangan Lanre Said menyadari, perjuangan dakwahnya melalui politik dan revolusi DI/ TII tidak membuahkan hasil. “Akhirnya, dia mulai merintis perjuangan melalui jalur pendidikan,” kata Saad.
Awalnya, KH Lanre Said membina sejumlah santri di rumahnya di Bone, untuk menghafal Al-Quran. Ia menamakannya Majelis Qurra Wal-Huffadz. Di antara santrinya waktu itu, Bactiar Nasir, Zulfahmi Alwi, Samsuddin Arif, Yusuf Rusdi dan Syekh Bajuril Kubro.
“Kami berlima adalah alumni Pesantren Gontor, yang kemudian datang belajar menghafal Al-Quran ke KH Lanre Said,” kata Zulfahmi Alwi, akademisi UIN Alauddin Makassar.
Menurut Zulfahmi, merekalah berlima yang kemudian mengusulkan kepada KH Lanre Said, agar Majelis Qurra Wal-Huffadz dibuatkan yayasan dan dikembangkan menjadi pesantren modern. Inilah yang menjadi cikal bakal Pesantren Darul Huffadz.
Pesantren Darul Huffadz diresmikan tahun 7 Agustus 1993 pukul 07.00 wita oleh Bupati Bone ke-7, Andi Amir. Pesantren ini berada di kampung Tujutuju dengan jumlah santri awal 7 orang.
Hebatnya, sejak didirikan KH Lanre Said, Pesantren Darul Huffadz hingga kini tak membebani pembayaran sama sekali santrinya. KH Lanre Said juga tak membolehkan meminta sumbangan untuk pesantren.
“Seluruh santri yang belajar di tempat beliau itu tidak membayar apa-apa. Beliau membiayai, bukan saja membiayai makan, minum, sandang, dan pangan, tetapi juga pendidikan anak-anak yang belajar di situ. Bahkan awalnya rumah beliau sendiri dijadikan tempat pendidikan,” kata Zulfahmi.
Zulfahmi menilai, sesungguhnya KH Lanre Said dikategorikan sebagai seorang sufi, lantaran memiliki tingkat kepasrahan kepada Allah yang sangat tinggi.
“Kalaupun misalnya orang tidak mengatakan beliau sufi, tapi saya melihat beliau itu memiliki sifat-sifat sufi. Salah satu sifat sifat Sufi itu adalah kepasrahan yang tinggi. Bayangkan begitu banyak santri yang dibina tidak ada satupun di antara mereka yang dimintai biaya. Lalu dari mana biayanya, sering kali datang sumbangan yang tidak diduga-duga dan tidak diketahui siapa yang memberikan,” kenang Zulfahmi.
KH Lanre Said, ulama yang menunjukkan keteladan tentang ketulusan, keikhlasan dan sifat tawakkal kepada Allah. Ia tak pernah takut, pesantrennya terancam tutup gara-gara tak punya dana operasional. Ia menggunakan manajemen ilahi.
Selengkapnya kisah tentang KH Lanre Said dapat pembaca nonton dalam Program Jejak Ulama Sulsel, yang disiarkan Celebes TV, Selasa (28/5/2019) pukul 17.00 wita. Siaran streaming Celebes TV dapat diakses melalui celebesmedia.id, yang aplikasinya dapat diunduh melalui Play Store maupun Apps Store. (*)
Penulis : Muannas
