KOLOM ANDI SURUJI: Memahami Konten dan Konteks Unjuk Rasa Mahasiswa

DALAM sebuah video yang beredar, sekelompok emak-emak
memompakan semangat kepada mahasiswa Makassar yang sedang berunjuk rasa di
jalanan. Dari balik jendela mobilnya, salah seorang di antara ibu-ibu itu
berteriak: jangko berenti nak (jangan kalian berhenti, nak).
Bukan mengeneralisasi apalagi mendramatisasi masalah; unjuk
rasa, mahasiswa, dan emak-emak. Unjuk rasa satu hal, mahasiswa dan emak-emak
satu hal lain. Tetapi dalam konteks unjuk rasa itu, mahasiswa dan emak-emak
satu rasa. Dongkol, jengkel, kesal, marah terhadap rezim pemerintahan ini.
Tema besar yang diusung mahasiswa lebih kepada masalah
berbangsa dan bernegara, substansi demokrasi. Yaitu perpanjangan periode
kekuasaan dan penundaan pemilu. Keduanya dipahami sebagai pengangkangan
demokrasi dan konstitusi.
Bagi emak-emak unjuk rasa mahasiswa itu menjadi corong
aspirasi dan jeritan suara hati mereka yang telah berkumulasi menjadi
kemarahan.
Unjuk rasa mahasiswa, adalah kulminasi dari tumpukan
kejengkelan mereka melihat rezim yang dianggap tidak peduli penderitaan rakyat,
justru sibuk mewacanakan perpanjangan masa jabatan kekuasaan presiden, dan
penundaan pemilu. Selain mengangkangi konstitusi, juga sekaligus mengkhianati
reformasi berdarah yang dimotori mahasiswa hingga melengserkan Rezim Orde Baru.
Presiden Jokowi memang sudah berulang kali menyatakan tidak
mau memperpanjang masa jabatannya, tidak bermaksud menunda pemilu. Tetapi
sejumlah pembantu, partai pengusung dan pendukungnya, terus membuka wacana
dengan berbagai argumentasi pembenaran tindakan dan keinginan itu, yang dinilai
masyarakat inkonstitusional.
Dengan terus berkembangnya wacana itu dari kalangan pembantu
presiden, maka rakyat membaca dan memahami gelagat tersebut dalam kosmologi
Jawa (bukan rasis) karena Presiden orang Jawa. Bahwa apa yang diutarakan
presiden, hanya lip service. Belum tentu pernyataan itu juga sama dengan
maksudnya, karena pernyataan pembantunya memang bersayap.
Kalau begitu, seharusnya mereka yang terus saja mewacanakan
tiga periode dan penundaan pemilu yang dituntut, didemo, diunjukrasai.
Akan tetapi, dalam kosmologi Jawa, pernyataan presiden tidak
dibaca secara linier. Oleh karena itu, pengunjuk rasa mengalamatkan tuntutan
kepada Presiden.
Mengapa? Kita pernah mendengar dan viral bahwa anak presiden
tidak berminat terjun ke politik dan kekuasaan. Faktanya, anak presiden menjadi
walikota di Solo. Menantu di Medan. Itu salah satu fakta yang membuat presiden
low trusted.
Pada titik ini, rakyat melihat bahwa rezim pemerintahan dan
kekuasaan ini sudah tidak peduli dan tak lagi memikirkan penderitaan rakyat.
Akan tetapi yang terpikirkan dan diupayakan dengan segala cara ialah
memperpanjang kekuasaannya.
Rakyat marah. Dua tahun mereka menderita dalam kungkungan
pendemi Covid-19, yang menelan begitu banyak korban jiwa. Ruang gerak serba
terbatas dan dibatasi. Ujungnya, usaha mereka bangkrut. Terjadi pemutusan
hubungan kerja massal. Barisan pengangguran bertambah panjang.
Pada sisi lain, tenaga kerja asing terus mengalir masuk atas
nama kepentingan investasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang terjungkal.
Padahal, pekerja asing itu toh hanya mengerjakan pekerjaan yang sesungguhnya
bisa ditangani pekerja lokal.
Kemiskinan pada gilirannya makin gila mendera rakyat.
Pemerintah memang mencoba menjadi dewa penolong, dengan bantuan sosial. Tetapi
distribusi tak merata, tidak tepat sasaran, volume dan mutu barang tidak
standar. Bahkan lebih menjengkelkan karena ada pihak yang menangguk keuntungan
secara ilegal. Bansos dibancaki.
Di tengah kondisi masyarakat yang stress,
kebijakan-kebijakan pro-rakyat semakin menguap. Kebijakan demi kebijakan berupa
syarat-syatat perjalanan, test antigen dan pcr, dianggap sebagai bisnis elit
kekuasaan yang menangguk untung besar walaupun membebani rakyat.
Di ujung pandemi yang mulai reda, kebijakan mulai longgar,
kesulitan hidup rakyat bukannya melemah. Justru semakin berat karena kelangkaan
minyak goreng, padahal seluruh dunia tahu negeri ini penghasil minyak sawit,
bahan baku minyak goreng, terbesar di dunia.
Penderitaan itu masih bertambah dengan langkanya solar. Truk
antre di mana-mana. Pertalite kosong, harga pertamax naik. Ujung-ujungnya
memicu kenaikan harga bahan kebutuhan pokok lainnya.
Apa pun alasan pembenarannya dari produsen dan pemerintah,
rakyat sudah terlanjur apriori. Menggerutu, jengkel, dan kepercayaan mereka
terhadap pemerintah kian tergerus.
Dalam konteks inilah, sikap emak-emak, sebagaimana di awal
tulisan ini, menemukan korelasi dukungan semangat kepada mahasiswa pengunjuk
rasa itu. Puluhan juta emak-emak yang tertekan merasakan kesulitan hidup ini.
Tidak mampu bersuara, apalagi turun ke jalan unjuk rasa.
Kecuali mengomel, jengkel, dan marah. Setiap membaca berita, menonton televisi
dan video-video viral tentang alasan-alasan pembelaan pemerintah terkait
situasi dan kondisi yang dialami rakyat.
Pada wakil rakyat di DPR tidak lagi ada harapan karena
mereka sudah kena sakit mendadak bisu. Maka kepada mahasiswalah mereka menggantungkan
harapan. "Jangko berenti, nak...".