Pengamat Beberkan Bahaya Pembangunan 15 Sumur Bor di Makassar

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Pemerintah Kota Makassar berencana akan membangunan 15 sumur bor untuk mengatasi krisis air bersih pada beberapa kecamatan di Makassar.
Berdasarkan pendataan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar ada 8 Kecamatan di Kota Makassar masuk radar darurat air bersih akibat kekeringan, yakni Kecamatan Tamalanrea, Ujung tanah, Biringkanaya, Bontoala, Panakkukang, Tallo, Manggala, dan kecamatan Makassar.
Meski pembangunan 15 sumur bor dengan anggaran belasan miliar rupiah tersebut sebagai solusi krisis air bersih di Makassar, namun pengamat tata kota, Nur Syam menjelaskan tentu pembangunannya akan berdampak buruk jika ditilik jangka panjangnya.
Nur Syam mengapresiasi respon cepat Pemkot Makassar terhadap keluhan dan masyarakatnya. Namun menurutnya yang perlu ditelaah dampak terhadap lingkungan yang akan ditimbulkan
"Kalau sifatnya jangka pendek, tentu ini sangat efektif sekali karena membantu pemerintah agar tidak kewalahan memberikan suplai air, dan membantu juga masyarakat yang membutuhkan air bersih, tapi efektivitasnya hanya berlangsung di musim kemarau saja, tidak untuk jangka panjang," jelas Nur Syam, Kamis (21/9/2023).
"Dampak buruk dari penyedotan air tanah menggunakan sumur bor akan sangat terasa dalam jangka yang cukup panjang di masa yang akan datang," lanjutnya.
Menurutnya potensi bahaya dari sumur bor adalah eksploitasi yang besar dari air tanah sehingga menimbulkan rongga besar di perut bumi. Rongga ini tercipta akibat berkurangnya air tanah lebih cepat dari pengisian kembali. Sehingga berpotensi besar terjadinya penurunan permukaan tanah, yang tentu saja akan merusak lingkungan.
Sebagai contoh kasus, Ibukota Negara yaitu Jakarta. Berdasarkan penelitian dari jurnal Nature Communications yang dirilis pada tahun 2019, Jakarta diprediksi akan tenggelam pada tahun 2050. Salah satu penyebabnya adalah Penyedotan air tanah menggunakan sumur bor yang terus menerus dilakukan
Makassar dengan lokasinya yang berdampingan dengan lautan, kata Nur Syam akan membuatnya bisa saja bernasib sama dengan Jakarta dalam beberapa tahun ke depan.
"Lokasi Makassar berdekatan dengan laut tentu penurunan permukaan tanah akan menimbulkan naiknya volume air laut, yang mungkin bisa saja menjadikan Makassar bernasib sama dengan Jakarta saat ini, yaitu perlahan-lahan akan tenggelam atau tanah ambles," jelasnya.
Pengamat tata kota Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM) ini memberikan saran pembangunan sumur bor tersebut harus dibarengi dengan menghadirkan ruang terbuka hijau agar dapat menyeimbangkan antara air yang masuk dan air yang diambil.
"Harus diimbangi dengan keseimbangan lingkungan, misalnya penyediaan ruang terbuka hijau (RTH). Dalam undang-undang RTH itu minimal 20% dari luas kota atau wilayah, 10% adalah private," kata Nur Syam.
"Tapi kalau kita lihat sekarang hampir setiap rumah tidak memiliki pekarangan, jadi harus ada balancing antara apa yang dilakukan dan apa yang harus disediakan. Harus seimbang antara air yang masuk dan air yang di ambil, atau setiap bangunan menyediakan sumur resapan, " sambungnya.
Sebelumnya diberitakan Pemerintah Kota Makassar menganggarkan pembuatan sumur bor untuk mengatasi dampak kekeringan. Setiap sumur bor menelan anggaran Rp 900 juta dengan asumsi dapat mengaliri air bersih ke 100 rumah warga. Sumur bor tersebut memiliki luas 4,5 x 4 meter. Sementara kedalamannya mencapai 150 meter.
Hal ini diungkapkan PPTK Air Bersih Bidang Bina Teknik Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Makassar Nuraeni Bakirman.
Namun Nuareni menjelaskan anggaran sumur sebesar Rp900 juta per unit itu tidak hanya mencakup biaya penggalian saja tetapi termasuk juga pengadaan alat opersional yang mencakup diantaranya mesin, panel listrik, penampungan dan rumah pengelolah.
Laporan : Riski