ASAL-USUL : Gaya dan Tilang

Di kalangan masyarakat Sumatera Utara, biasa dibilang "Orang Medan", populer cerita anekdot tentang gaya pengendara sepeda motor yang salah-salah pun bisa dihukum oleh polisi di Medan.
Ceritanya, seorang polisi menyetop seorang pengendara sepeda motor. Setelah surat-surat diperiksa ternyata lengkap. Akan tetapi polisi tetap menghukum si pengendara alias ditilang.
Kata ditilang itu sebenarnya salah kaprah. Alasannya, tilang adalah akronim dari bukTI peLANGgaran. Jadi yang benar diberi surat tilang atau surat bukti pelanggaran.
Bingung si pengendara. Surat-surat lengkap. Tidak melanggar rambu. "Lho mengapa Bapak tilang saya?" katanya heran dan suara mulai ngegas.
"Kau memang tidak melanggarlah. Tetapi gayamu itu aku tidak suka, makanya kutilang kau..." kata Pak Polantas.
Soalnya si pengendara menjalankan motornya dengan duduk miring. Pantatnya nyaris jatuh dari sadel. "Bikin emosi itu gaya kau.."
Itu cerita di Medan. Cak Lontong, si artis stand up comedy tersohor, itu juga punya cerita soal pemotor. Dia suka heran melihat pemotor yang stop kalau lampu merah traffic light menyala.
Ditanya kenapa berhenti, pemotor jawab sedang menunggu lampu hijau. Tetapi begitu lampu hijau menyala, mereka berhamburan, tancap gas melaju. Katanya nunggu, begitu nyala malah kabur.
Lain lagi cerita pemotor di Makassar. Orang di Kota Daeng suka meledek, katanya pemotor sudah maju. Buktinya, bahkan lampu hijau belum menyala pun, mereka sudah maju semua. Hahaha...
Kini semakin ngetren anak-anak muda yang bergaya bebas pakai motor di jalan raya. Freestyle istilah mereka. Roda depan motornya diangkat, sehingga hanya roda belakang yang menopang motor melaju kencang.
Itu sangat berbahaya. Selain bahaya bagi dirinya sendiri, juga mengancam keselamatan pengguna jalan lain. Tentu sulit mengendalikan motor yang melaju dengan hanya satu roda dibanding dua roda. Namanya juga kendaraan roda dua.
Nah, menurut berita, bahkan ada di antara mereka yang belum punya SIM. Direktur Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Sulsel, Kombes Pol Faizal berencana akan membuat kontes freestyle bagi kalangan anak muda atau pelajar.
Sekalian menunjukkan mereka tempat latihan. Bukan di jalan raya. Tuh jago freestyle ayo ikutan.
Asal-usul nih, Polisi juga perlu menertibkan rombongan pengantar pemakaman jenazah. Kadangkala mereka ini tak kalah ugal-ugalannya. Banyak yang tidak pakai helm atau bonceng tiga.
Seolah mereka memiliki jalan raya, orang lain cuma menumpang lewat. Bahkan sudah sering terjadi, mereka mengeroyok atau merusak mobil pengendara lain.
Polisi Makassar mungkin perlu meniru cara Polisi Medan dalam menertibkan pemotor, seperti cerita pada awal tulisan ini. Belum lagi kalau kita ketemu emak-emak yang kasi sign kiri padahal dia belok kanan.... Ampun deh...!