KOLOM ANDI SURUJI : Antara Vancouver dan Makassar

KOLOM ANDI SURUJI : Antara Vancouver dan Makassar - (foto by Makassarkota.go.id)

SUATU waktu di Vancouver, Kanada, sekitar dua puluh dua tahun silam, saya berjalan menyeberang jalan. Cuaca dingin dan lalu lintas sepi. Dengan cuek saja saya melintasi pemisah jalan. 

Saya menginjak rumput yang ditanam bersama bunga-bunga aneka jenis dan warna yang indah di atas pemisah jalan tersebut. Dalam sekejap, seorang perempuan tua yang merawat tanaman rumput dan banga-bunga itu buru-buru menghampiri saya. 

"Mengapa kamu tega menginjak rumput itu?" katanya setelah mendekat.

Saya agak bingung menjawabnya. Dalam hati, apa salahnya. Toh cuma rumput. Tidak akan rusak seketika saya injak.

"Kamu tahu, saya digaji negara dengan uang rakyat, untuk merawat tanaman ini supaya indah dipandang orang. Kamu menginjaknya. Kalau dia rusak atau mati berarti kamu telah merampas hak orang untuk memandang taman yang indah."

Spontan saya meminta maaf atas kesalahan saya.

"Ok.. lain kali jangan lagi menginjak rumput dan menyeberanglah di zebra cross. Have a good day," katanya lalu melanjutkan kerjanya.

Saya pun berlalu. Malu rasanya ditegur nenek tua itu. Sembari berjalan, saya berdiskusi dengan teman dari surat kabar The Jakarta Post. Kami berkesimpulan, teguran atau nasihat nenek itu merupakan salah satu ukuran nilai dalam tingkatan peradaban suatu komunitas, masyarakat, bahkan warga bangsa.

Kian tinggi peradaban seseorang, warga bangsa, semakin mampu mengekang ego, sikap individualis, dan lebih menempatkan kepentingan bersama orang banyak ketimbang kepentingan pribadi. 

Baik bagi saya, peduli amat orang lain. Baik bagi saya dan baik pula bagi orang lain. Baik bagi saya dan lebih baik bagi orang lain. Mungkin kurang baik bagi saya, tetapi pasti baik bagi orang lain. Begitulah kira-kira urutan tingkat pola pikir dan peradaban manusia.

Kini, saya berada di Kota Makassar yang merayakan hari ulang tahunnya yang ke 412 pada tanggal 9 November 2019. Satu kota yang jauh lebih tua dari Vancouver, yang lahir tahun 1886.

Jarak antara Makasaar dan Vancouver memang jauh, ratusan atau bahkan ribuan mil. Penerbangan dari Makassar ke Vancouver perlu stop over dulu di Jakarta atau Bali, baru ke Tokyo lalu ke Vancouver.

Akan tetapi kedua kota bukan tidak memiliki hubungan historis. Sebuah perahu tradisional, Pinisi Nusantara buatan Bulukumba, Sulawesi Selatan pernah melakukan pelayaran bersejarah ke Vancouver. 

Persentuhan sejarah dan budaya kedua bangsa juga sudah berlangsung lama. Akan tetapi kemajuan tingkat keadaban dan peradaban masyarakatnya masih bisa diperdebatkan.

Makassar adalah kota tua, renta memikul beban modernisasi. Bangunan-bangunan kuno yang memiliki nilai kultural dan historis tinggi telah bertumbangan, berganti dengan bangunan-bangunan berarsitek modern.

Beberapa simbol modernitas Makassar bisa dilihat dari hadirnya gedung-gedung tinggi, hotel-hotel berbintang, mal-mal bagus berisi barang-barang bermerek global.

Sekolah semakin banyak, bahkan beberapa mengklaim diri berstandar internasional. Perguruan tinggi negeri dan swasta bertebaran, yang sejatinya menjadi center of excellence dan pusat peradaban.

Dalam usia empat abad lebih dengan geliat modernitas yang ditandai antara lain begitu banyak sekolah dan kampus perguruan tinggi, seharusnya berkorelasi dan berbanding lurus dengan tingkat peradaban warganya yang semakin tinggi. Asumsinya ilmu pengetahuan yang ditransfer di sekolah dan kampus sejatinya mengubah peradaban manusia menjadi lebih baik, lebih tinggi.

Ilmu pengetahuan membawa manusia berevolusi dari perilaku purba menjadi manusia modern, berkarakter dan berwatak baik, manusia saling memanusiakan sesamanya.

Kata orang, menilai tinggi rendahnya tingkat peradaban manusia lihatlah juga pola pikir dan perilakunya manakala hendak melakukan sesuatu. 

Jika masih mementingkan atau mendahulukan dirinya dan menghiraukan orang lain, maka tingkat peradabannya masih rendah. 

Akan tetapi manakala ia sudah terlebih dahulu menilai baik-buruknya apa yang hendak dilakukan itu terhadap orang lain, maka boleh dikata mereka sudah pada tahap peradaban tinggi. Setidaknya sudah di atas rata-rata manusia egois dan individualis.

Perilaku suatu masyarakat saat berada di jalan raya, bisa juga dipakai mengukur atau menilai tingkatan peradaban manusia. 

Saling serobot, egois tidak mau mengalah, melawan arus dan melanggar aturan dan etika, seolah hal biasa saja. Pemandangan rutin dalam keseharian.

Tidak jarang kita melihat sampah beterbangan keluar dari mobil mewah yang dibuang ke jalan. Orang membuang puntung rokok sembarangan, melempar sampah seenaknya. Merokok di atas angkutan umum. Seolah tidak ada yang salah dengan perilaku seperti itu.

Jambret alias begal di tengah jalan tak memilih waktu siang dan malam. Bahkan banyak pelaku melukai korbannya secara sadis. Tak ubahnya film-film koboi yang enteng membantai korban tak bersalah hanya demi meraih targetnya.

Pernah ada satire dan sinisme yang anekdotal viral di media sosial bahwa masyarakat Makasaar sudah sangat maju. Buktinya kalau berhenti di perempatan jalan. Lampu hijau tanda boleh jalan belum menyala, pengendara sudah berlomba maju. 

Pelanggaran aturan yang kasak mata, ditonton banyak orang, dilakukan tanpa rasa malu sedikit pun. Bahkan ada prinsip mereka yang tidak melakukan hal seperti itulah yang salah. Ada rasa bangga jika berperilaku menyimpang.

Modernitas dan kemajuan masyarakat tidaklah diukur sekadar hadirnya gedung tinggi, hotel dan mal-mal mewah, atau kendaraan mewah. Akan tetapi bagaimana manusia menekan ego, merendahkan hati, demi kebaikan bersama atau kebaikan orang lain. Dalam segala hal.

Kita punya budaya sipakainge (saling mengingatkan) sipakatau (saling menghargai dan mengangkat harkat). Namun acapkali hanyalah terasa seperti slogan tanpa rasa dan jargon kosong yang hambar nirmakna.

Kata tabe' yang berarti permisi dan bermakna meninggikan lawan bicara, sering kita jumpai dalam percakapan langsung maupun komunikasi via whatsapp. Itu juga cuma lip service pencitraan kerendahan hati di hadapan sesama. Namun di belakang menelikung dan menistakan.

Sesungguhnya hal-hal seperti itu tergolong peradaban yang masih purba.

Tugas dan tanggung jawab para penyelenggara pemerintahan, para pendidik di kampus sebagai pusat peradaban untuk mengubah pola pikir dan perilaku purba itu. 

Merestorasinya menjadi sikap dan karakter manusia modern yang tetap kuat berakar budaya. Saling menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan sesama warga kota. Siapa pun dan dari golongan serta status apa pun.

Selamat Ulang Tahun ke-412 Makassar. Kota peradaban yang kaya akan budaya luhur dan sejarah yang panjang.