Gerhana Bulan Total Blood Moon Bakal Hiasi Langit Malam 13-14 Mareti

Gerhana bulan total blood moon - (foto by: YouTube/NASA)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Fenomena astronomi langka akan menghiasi langit malam di pertengahan Ramadan tahun ini.

Bulan menjadi merah disebabkan gerhana bulan total yang juga disebut Blood Moon akan terjadi pada 13 - 14 Maret 2025 malam.

Mengutip Space.com, Rabu (12/3/2025), gerhana bulan total terjadi saat bulan purnama, di mana bumi berada di antara matahari dan bulan, sehingga bayangan bumi sepenuhnya menutupi bulan. Saat terjadi matahari, bumi, dan bulan berada dalam satu garis lurus.

Mengapa Disebut Blood Moon?

Mengutip USA Today, gerhana bulan total umumnya disebut sebagai blood moon atau bulan darah karena kecenderungan bulan untuk berubah menjadi warna kemerahan saat tertutup oleh bayangan Bumi.

Durasi gerhana bulan total ini berlangsung sekitar 1 jam 40 menit hingga hampir 2 jam. Namun keseluruhan proses, termasuk fase penumbra dan sebagian, juga memakan waktu beberapa jam. 

Warna merah pada bulan saat gerhana total disebabkan oleh pembiasan cahaya matahari oleh atmosfer bumi. Cahaya biru tersebar lebih banyak, sehingga cahaya merah yang mencapai bulan lebih dominan.

Fase-fase Gerhana Bulan Total

Proses terjadinya gerhana bulan total terdiri dari beberapa fase yakni: 

Penumbra (bulan tampak sedikit redup)
Sebagian (sebagian bulan tertutup bayangan)
Total (bulan sepenuhnya tertutup bayangan dan tampak merah)
Sebagian (bulan mulai keluar dari bayangan) hingga kembali ke penumbra.

Biasanya fase total terjadi saat bulan tampak berwarna merah gelap atau merah tembaga akan berlangsung sekitar 65 menit atau 1 jam lebih.

Bisakah Disaksikan di Indonesia?

Sayangnya bagi masyarakat Indonesia, blood moon ini tidak akan terlihat dari wilayah Indonesia. Penyebabnya kondisi geografis dan waktu terjadinya gerhana sehingga warga Indonesia  tidak dapat disaksikan secara langsung dari Tanah Air.

Gerhana bulan total hanya akan terlihat di Amerika Utara, Amerika Selatan, wilayah barat Eropa, dan Afrika.

Bagi warga Indonesia yang ingin menyaksikannya dapat melalui live streaming. Banyak lembaga antariksa yang akan menayangkannya secara streaming fenomen langka tersebut.