Distributor Keluhkan Kebijakan Minyak Goreng Satu Harga

RDP kelangkaan minyak goreng di DPRD Sulsel, Rabu (2/3) siang - (foto by Fitri)

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Salah satu distributor minyak goreng di Sulawesi Selatan yang hadir dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi B DPRD Sulsel, Rabu (2/3/2022) siang, mengungkapkan penjualannya menurun pasca kebijakan minyak satu harga Rp14.000/liter dikeluarkan pada Januari lalu.

Perwakilan PT Sinar Gowa Sukses, Mansur Suking mengatakan bahwa setelah adanya kebijakan minyak satu harga tersebut keuntungannya menurun hingga 50% pada bulan Januari.

“Sebenarnya kalau untuk minyak, hasil penjualan daripada saya sendiri setelah ada kisruh minyak itu terjadi penurunan penjualan. Kita mengambil contoh, Desember itu saya menjual Rp 15,9 miliar untuk Sulawesi Selatan dan Barat itu kurang lebih 1,2 juta liter. Namun yang terjadi di Januari, itu saya cuma menjual Rp 7 miliar,” jelas Mansur.

Ia menjelaskan bahwa suplay minyak dari para produsen juga ikut menurun setelah kebijakan tersebut keluar. Menurut dia, tidak ada pelaku usaha yang senang dengan kebijakan tersebut karena merasa rugi jika minyak goreng kemasan harus dijual dengan harga Rp14.000/liter, sedangkan biaya distribusi meningkat.

“Kenapa kita cuma menjual Rp 7 miliar? Karena pihak pabrik itu juga sibuk dengan keputusan pemerintah mulai dari rafaksi, proses penggantian barang di toko, dan lain sebagainya. Jadi sebenarnya, dengan adanya keputusan pemerintah ini semua pihak terkait itu tidak senang. Karena kita sebenarnya rugi. Kenapa rugi? Karena pemerintah sudah menetapkan harga minyak itu Rp 14.000,” lanjut Mansur.

“Kalau saya, dari direktur saya mengatakan harusnya harga yang ditentukan bermain di Rp17.000 hingga Rp18.000/liter. Soalnya yang terjadi sekarang adalah suplay dari pabrik yang akhirnya turun, kenapa dari suplaynya pabrik turun? Karena sebenarnya pabrik pun berpikir bahwa kalau memproduksi ini barang sebenarnya tidak cocok dari segi keuntungan,” tambahnya.

Lanjut Mansur, keuntungan yang didapatkan dari satu liter minyak goreng kemasan itu hanya sebesar Rp500/liter atau Rp6.000/karton, jauh dari keuntungan sebelumnya.

“Setelah terjadi penetapan HET dari pemerintah ini sebenarnya kita di distributor juga marginnya jadi turun, artinya ongkos distribusi meningkat, tetapi kita punya keuntungan turun. Jadi sebenarnya kita distributor tidak happy dengan adanya keputusan pemerintah yang baru ini,”tutur Mansur.

Meskipun keuntungannya menurun, Mansur menegaskan perusahaannya tetap mendistribusikan minyak goreng kepada para pelanggan secara terbatas.

“Meskipun dengan risiko kita makin menipis keuntungan bahkan tidak untung, kita tetap suplay ke pelanggan, meskipun sesuai dengan rata-rata ambilnya,” tutup Mansur.

Laporan: Fitri Khaerunnisa