KOLOM ANDI SURUJI : Antara Kota Makassar dan Rinku Town

Pantai Losari - (handover)

MUSIK berdentum-dentum memecah suasana malam di Anjungan Losari, Makassar, Sabtu malam. Bulan tampak sendirian. Tak satu pun bintang di langit menemaninya.

Udara cukup sejuk karena sore harinya hujan turun mengguyur kota tua berusia 412 tahun ini. Sebagian jalanan, terutama sisi pinggirnya, masih basah. Bahkan di sana sini terdapat genangan kecil, sisa air hujan yang belum terserap tanah dan belum mengalir masuk ke sistem drainase.

Saya tertarik jalan-jalan dulu ke bagian lain anjungan yang jadi ikon kota itu. Inilah ikon baru destinasi swafoto dan kuliner, menggusur tembok panjang ketika kawasan itu masih bernama Pantai Losari.

Pada sekeliling lokasi anjungan benda-benda dan bangunan bertabur cahaya. Saya memotret perahu historis Bugis Makassar, Pinisi, yang tertambat kalem. Bodinya terang benderang disapu sinar lampu sorot. Di latar belakangnya samar-samar tampak ikon baru Makassar, yakni Masjid 99 Kubah yang didominasi warna putih dan oranye.

Saya menunduk ke laut. Airnya agak pekat. Sepertinya tak bergerak, apalagi mengalir. Sampah banyak bertebaran di air laut. Bau kurang sedap menyergap hidung.

Ingatan saya mengembara jauh ke masa silam. Di sini, di tembok pembatas antara laut dan Jalan Penghibur warga biasa duduk-duduk. Menghadap ke laut sembari menyantap pesanan kesukaan, seperti nasi goreng merah, pisang epe, bakso atau kopi.

Ombak bergulung kecil menuju ke bibir daratan dan pecah di batu karang, menyemburkan bau air laut yang kental dan segar. Diterpa angin malam, dan musik alam orkestrasi bunyi ombak dan suara pecahannya di batu karang, kadang membuat bulu kuduk berdiri. Sungguh romantis malam-malam di Pantai Losari, dahulu.

Kini romantisme itu tinggal kenangan. Losari sudah berganti wajah. Ia makin cantik rupawan, berwajah gemerlap bertabur cahaya. Dulu penerangan hanya dari lampu jalan milik perusahaan listrik negara.

Tambahannya paling banter cahaya lampu dari gerobak penjual makanan dan minuman yang berjejer sepanjang pantai. Gerobak penjual itu selalu didorong pulang ke rumah setiap malam selepas bertugas.

Aroma khas air laut yang segar telah berganti menjadi bau tak sedap air laut yang mati tak mengalir deras. Mungkin saja masih mengalir tetapi sirkulasinya lambat karena terhambat reklamasi.

Itu terjadi setelah adanya reklamasi yang dibangun grup raksasa properti Ciputra. Reklamasi yang memanjang ke utara, mengurung air laut sehingga sirkulasinya mati.

Itulah perubahan signifikan dan dampak negatif dari satu langkah pembangunan yang mengubah sitausi, kondisi, dan struktur alam dan lingkungan.

Lamunan saya tiba-tiba terusik oleh perahu yang meraung-raung berputar-putar di air laut di depan anjungan. Rupanya lelaki yang mengemudikannya juga sedang menjala sampah yang berserakan di laut.

Ada dua perahu yang serupa itu. Tetapi satunya sedang istirahat. Melihat merek yang tertulis di lambung perahu, sepertinya milik pemerintah. Kalau itu benar, berarti pemerintah menambah biaya untuk kebersihan laut. Mungkin juga pembersihan laut itu biaya Ciputra, sang developer.

Oh Losari. Dulu gelap berwajah jelek, tetapi aroma air lautnya segar. Kini losari yang modern, berwajah cantik tetapi beraroma ikan asin. Belum lagi di beberapa sudut bau pesing menyengat bikin pusing.

Saya teringat kotaku sewaktu ditugaskan kantor belajar di Jepang, tahun 1999-2000. Namanya Rinku Town. Ini juga kota reklamasi.

Rinku berasal dari bahasa Inggris, link. Karena orang Jepang tidak memiliki konsonan selain huruf R, maka jadilah mereka menyebutnya Rinku Town.

Di depan daratan itu, terdapat Bandara Internasional Kansai yang berada di tengah laut. Bandara itu beroperasi 24 jam, melayani penerbangan dari dan ke seluruh penjuru dunia.

Kansai International Airport itu juga seperti pulau di tengah laut. Hasil reklamasi juga. Untuk menghubungkan bandara dan daratan, pemerintah Jepang membangun jalan khusus. Ada jalur kereta, lainnya jalur bus, truk dan kendaraan roda empat.

Menurut penjelasan otoritas bandara kepada kami peserta program Kansai International Institute yang berasal dari lebih 30 negara, pembangunan bandara dan Rinku Town berlangsung lebih dari 20 tahun sejak studi awal di mulai.

Mengapa begitu lama?. Mereka bilang studi lingkungannya butuh waktu panjang. Studi mendalam dan komprehensif berbagai aspek lingkungan mencakup masalah kebisingan, keamanan, keberlangsungan hidup ekosistem laut, manusia dan mahluk hidup lainnya.

Pokoknya, keberadaan bandara, termasuk reklamasi kota, tidak boleh menimbulkan dampak lingkungan sekecil apa pun, apalagi berpotensi mendatangkan bencana lingkungan.

Nah, saya belum menemukan dokumen mengenai studi mendalam dan komprehensif tentang keamanan dan kelestarian lingkungan sehubungan pembangunan reklamasi Center Point of Indonesia di Makassar, yang dibanggakan itu. Seberapa mendalam dan komprehensif studinya.

Soalnya, belum rampung pembangunan CPI, sudah terasa dampak lingkungannya, seperti diuraikan di atas. Duh, ada bau busuk di Losari.